Dara

Dara:

8 Januari, 5 tahun silam, Dara kehilangan keperawanan. Itu pun kalau keperawanan hanya dimaknai sebatas selaput dara. Dan jika selaput darah itu robek, maka hilanglah keperawanan dari ia – yang tadinya – diagungkan sebagai gadis.

Mika, nama lelaki itu. Lelaki yang kegagahannya telah meledakkan berahi Dara di malam naas itu.

Tidak. Dara tidak diperkosa, tapi ia membiarkan dirinya terbuai dalam bisikan penuh godaan dari lelaki yang mengaku mencintainya.

Dara, kini bukanlah dara seperti namanya. Dara telah kehilangan kegadisannya. Setidaknya, itu menurut pemikirannya sendiri.

Mika, lelaki berparas biasa saja. Badannya kurus kerempeng khas anak kuliahan yang menggantungkan kesejahteraan perut di akhir bulan hanya pada mie instant. Namanya bak malaikat, pun tatapan matanya. Itulah yang membuat dada Dara tertancap panah si Cupid.

Umur Dara kala itu baru 19 tahun. Semerbak untuk anak gadis yang segera beranjak dewasa. Dan menggoda mata lelaki untuk menelanjanginya dalam imaji liar nan kotor.

Namun perhatian Dara hanya tertumbuk pada lelaki itu. Mika, Mika, dan hanya Mika saja. Tiap hari, dari pagi, siang, sampai malam, Mika-lah yang menemani Dara ke mana saja. Mika selayaknya body guard yang mengawasi Dara ke mana pun kakinya melangkah.

Mungkin Dara telah diguna-guna, tapi Dara tak percaya dengan ilmu hitam semacam itu. Baginya, itulah cinta - ketika keinginan untuk bersama dengan seseorang yang membuatnya nyaman setiap saat terus meluap. Dan seseorang itu adalah Mika; kekasihnya yang sama sekali tak rupawan.

Dara terlalu jelita untuk disandingkan dengan lelaki seperti Mika. Dunia mencibir. Teman-temannya, terutama para lelaki, banyak yang tidak rela. Mereka bahkan jijik menyaksikan Dara dipacari oleh lelaki yang tidak layak. Lelaki yang sepantasnya hanya dipandang sebelah mata oleh Dara.

Tapi Dara sudah telanjur buta. Buta oleh sesuatu yang diyakininya sebagai cinta.

Mungkin mereka tak tahu kalau Dara mencandui saat dicemburui. Itu membuat perutnya menggelinjang dan sesuatu dalam tubuhnya berkedut dalam irama yang menghadirkan nikmat-entah-apa-namanya. Dan Mika adalah orang yang tepat untuk memuaskan kecanduannya. Mika posesif. Pencemburu kelas berat.

Tak dibiarkannya Dara bertegur sapa dengan sembarang orang, terutama lelaki. Teman kampus, dosen, bahkan sepupu lelaki Dara pernah menjadi sasaran bogem mentah Mika yang mengganas karena cemburu buta.

Dara menangis kala itu, tapi ia menangis dalam kesenangan. Kesenangan karena candunya telah dipuaskan. Kepuasan yang membuatnya semakin mencandui hal tersebut.

Di malam naas itu Mika kembali mengamuk. Ia mendapati ponsel Dara berisi pesan dari nomor tak dikenal yang mengajak Dara bertemu.

Pasti ini dari lelaki! Asumsi Mika saat itu.

Tak ayal, ponsel Dara menjadi sasaran awal.

Brak!

Ponsel itu pun jatuh bersamaan dengan jatuhnya bulir hangat dari kedua mata Dara.

Tapi, dalam hati sebenarnya Dara senang. Ada kejutan apalagi setelah ini, Mika sayang?

Mika meraih bahu Dara dan menatapnya matanya lekat. Ada amarah di sana. Juga nafsu. Mika seperti binatang liar yang hendak menerkam mangsanya hidup-hidup dan mencabik-cabik tubuhnya sampai nafsunya terpuaskan.

"Maaf." Hanya itu kata yang keluar dari bibir mungil Dara.

Bukan tamparan yang diterimanya saat itu, tapi satu bisikan yang mengalirkan hangat di telinga Dara.

"Tahukah kau seberapa besar aku mencintaimu? Duniaku runtuh jika kau berani membagi hatimu dengan yang lain. Kau milikku dan takkan kubiarkan orang lain merebutmu dariku. Katakan kalau kau juga mencintaiku! Sama seperti aku yang rela mengorbankan seluruh hidupku agar bisa bersamamu. Katakan, Sayang!"

Ini bukan kamu, Mika. Ini orang lain!

Tapi batin Dara yang memberontak telanjur ditutupi nafsu karena kalimat bualan yang diucapkan dengan penuh gairah tersebut.

Hingga malam itu, di kamar kost nomor 8, satu anggukan kecil Dara berubah menjadi pagutan ganas di bibir, dada, dan selangkangan.

Saat benda asing itu memasuki pertahanan Dara, ia menjerit; meringis menahan sakit. Tapi sesaat kemudian, kesakitan berubah menjadi kenikmatan yang semakin lama semakin memuncak bersamaan dengan tubuh Mika yang memompa semakin cepat.

Hari ini, 8 Januari 2013, Mika – sang malaikat yang sebenarnya berhati iblis – telah lama berpisah dari Dara. Ia pergi bersama dengan keperawanan Dara yang telah direnggutnya.

Ah, itu mungkin hanya pemikiran Dara semata. Karena bukankah saat terlepas dari kekang, itu berarti Dara telah mendapatkan kebebasannya? Kebebasan jauh lebih berharga dari sekadar frase: "masih perawan."

Percuma juga jika selaput dara masih utuh, belum terjamah benda asing, tapi hati terkekang oleh dogma yang mematenkan bahwa keperawanan itu melulu soal selaput dara.

Lalu, bagaimana dengan Mika? Apakah karena ia tak punya selaput dara lantas ia bisa dikatakan masih perawan padahal ia pernah berkali-kali menyetubuhi Dara?

***

Cincin baru saja disematkan di jari manis Dara. Sesaat kemudian, ia berbisik dengan lembut ke telinga lelaki di sampingnya, "Terima kasih sudah bersedia menerimaku. Apa. Adanya."

Lelaki itu tersenyum sembari melirik cincin di jari manis Dara. Ada namanya di situ. Breiffe

"Karena cinta tidak setipis selaput dara seorang wanita" - Angga Johan Saputra

Comments

Popular posts from this blog

Singgah Sebentar, Hadirmu Tak Ribut Tapi Membekas

HADIAH yang membuahkan TRAUMA

Pendidikan Gak Penting?