Pendidikan Gak Penting?
Nggak jarang kita dengar celetukan sinis dari orang yang melewati kerumunan keluarga pengantar wisuda mahasiswa:
“Mau jadi apa sih mereka dengan gelar sarjananya?”
Yang menarik, kebanyakan yang nyeletuk begitu justru adalah mereka yang nggak pernah kuliah.
Padahal, kesuksesan orang berilmu itu nggak bisa diukur cuma dari jabatan atau uang.
Betapa sempitnya kalau ilmu diukur dari jabatan.
Betapa murahnya kalau ilmu diukur dari uang.
Ilmu itu nilainya tak terhingga.
Ilmu bikin kita bisa berpikir jernih, beda dengan mereka yang malas belajar dan ogah berpikir.
Ilmu yang berkah akan membentuk manusia yang punya nurani, bukan yang hidup seenaknya sendiri.
“Bangga banget sih jadi lulusan S1?”
Ya harus bangga dong!
Kuliah 4 tahun itu perjuangannya luar biasa.
Dapat IPK 4,00 jauh lebih susah daripada dapat nilai 100 di sekolah.
Lulus tepat waktu jauh lebih menantang daripada sekadar naik kelas.
Pernah dengar istilah “mahasiswa abadi”? Mereka saksi bahwa kuliah itu nggak mudah.
Ketemu dosen lebih menantang daripada ketemu guru.
Materi, pola belajar, lingkungan, semua bikin kita tumbuh lewat banyak jatuh bangun.
Wajar banget kalau kami bangga di hari wisuda.
Soal Cita-Cita?
Cita-cita nomor satu sebelum jadi “orang sukses” adalah jadi manusia dulu.
Manusia yang suka belajar, introspeksi, dan tahu mana yang baik untuk dirinya.
Bukan manusia yang sibuk makan bangkai saudaranya sendiri alias ghibah tiap hari.
Kuliah itu ngasih kita pengalaman hidup yang luas:
Ketemu orang dengan karakter berbeda-beda.
Ngobrol langsung dengan pengusaha, dosen, tokoh masyarakat, bahkan pejabat.
Belajar menghadapi risiko dan tanggung jawab karena nggak ada yang selalu mengarahkan.
Mahasiswa itu dilatih mencari dulu sebelum diajari.
Tentang Sarjana yang “Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga”?
Kalau ada wanita sarjana yang akhirnya memilih jadi IRT, lalu kenapa?
Memangnya dosa?
Salah?
Atau sebenarnya… kamu iri?
Ilmu itu tetap jadi manfaat, apapun perannya.
Seorang ibu berpendidikan bisa menciptakan generasi yang jauh lebih berkualitas, dari rumah.
Soal Pekerjaan?
Aku pribadi, sejak SMA nggak pernah punya cita-cita jadi karyawan.
(Bukan karena karyawan itu buruk, tapi karena memang bukan minatku.)
Pernah jadi karyawan, tapi jiwaku berontak.
Cita-citaku adalah yang kujalani sekarang:
Membangun usaha sendiri, menciptakan lapangan kerja, bergerak di industri kreatif, sesuai ilmu yang kupelajari.
Skripsiku pun tentang ekonomi kreatif, dan aku dapat nilai A.
Boleh bangga, dong?
Karena proses bikin skripsi sampai sidang itu bukan perkara sepele.
Kalau Guru Masih Sempit Pikiran?
Kecewa banget kalau di zaman sekarang masih ada guru yang berpikir sempit soal profesi dan gelar.
Mendidik anak bukan untuk “jadi ini atau itu” semata, tapi untuk jadi manusia yang utuh.
Kalau anakmu sukses jadi apa pun takdirnya kelak, dan dia menjalaninya dengan ikhlas dan tanggung jawab—itu juga hebat!
Kita butuh pola pikir yang lebih luas:
Bukan menilai anak dari titel atau gaji, tapi dari bagaimana dia menjalani hidupnya dengan ilmu dan akhlak.
Negara Maju = Rakyatnya Berilmu
Coba sebutkan satu saja negara maju yang penduduknya bodoh.
Ada?
Gak ada!
Negara yang maju adalah negara yang rakyatnya berpendidikan dan punya kesadaran untuk terus belajar.
Kalau kita masih menganggap pendidikan itu gak penting, jangan heran kalau negara ini juga susah maju.
Belajarlah sampai kamu gak lagi meremehkan pentingnya pendidikan.
Gunakan ilmu untuk menyebar kebaikan.
Karena ketika ilmu itu berkah, manfaatnya bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.
Apapun profesimu, berapa pun penghasilanmu, jadilah sumber daya yang berdaya.
Jadilah bagian dari kemajuan bangsa.
Comments
Post a Comment