HADIAH yang membuahkan TRAUMA
HADIAH bikin TRAUMA?
Dulu waktu mau nikah aku bilang ke teman-temanku saat kubagikan undangan "kalian kalau mau datang, datang aja, ya. Ga usah ngasih kado ataupun amplop juga gak apa-apa."
Tapi, mereka kira aku hanya bercanda.
Mereka tetap membawa hadiah saat datang.
Kusyukuri Alhamdulillah terima kasih banyak.
Sebelum menikah aku dapat cerita dari teman yang sudah menikah, bahwa katanya saat kita menerima hadiah pernikahan itu harus dikembalikan serupa, senilai, sebanding dengan yang kita terima saat menikah.
Aku bilang "loh, kalau nanti ternyata pas aku nikahan, dia lagi gak punya uang, masa dia harus maksain untuk bisa ngasih sama jumlahnya dengan yang pernah aku kasih? Enggak, ah, aku gak berharap begitu."
Lalu temanku hanya ketawa, katanya sudah budayanya begitu.
Saat membuka hadiah dari mereka satu persatu, meskipun bahagia, jadi ada rasa sedikit kekhawatiran. Mereka ngasih pamrih atau ikhlas, ya? Hehe.. Mudah-mudahan ikhlas, ya...
Ada beberapa hadiah juga dari temanku yang sudah menikah, jujur saat aku membukanya tidak ada rasa harap bahwa mereka akan memberikan sama atau sebanding dengan yang pernah kuberi, lebih sedikit/lebih murah tidak kuperhitungkan, aku menerimanya penuh rasa terimakasih.
Aku agak kurang suka sama budaya pamrih yang sudah mendarah daging di masyarakat adat kita.
Kalau ada yang masih bangga dan menjunjung tinggi budaya beri-memberi (pada momen/acara) yang terkesan pamrih itu, monggo. Kalau aku pribadi kurang nyaman.
Ketika kita ngasih A, lalu "berharap harus" dikasih A juga, atau apapun yg SEHARGA/SENILAI dengan A. What?
Aku kalau ngasih, ya, ngasih aja,
kalau lagi ada rejeki bisa ngasih banyak/bagus, Alhamdulillah,
kalau lagi gak ada ngasih sedikit/seadanya juga, ya, aku lagi mampunya segitu.
Dan aku tidak mengharapkan imbalan atau balasan apapun yang sebanding.
Aku ngasih, ya, ngasih aja. Kondangan, ya, kondangan aja. Ngado, ya, ngado aja. Aku Gak ngarep apa-apa.
Ketika aku menyadari bahwa budaya kita ini saat SAYA MENERIMA maka SAYA HARUS MENGEMBALIKAN APA YANG SAYA TERIMA SEBANDING/SENILAI/SEHARGA SAAT SAYA MEMBERI. Mungkin ada yang ngerasa "gak harus, kok..." Tapi, NGAKU DEH LO masih suka ngomong-ngomongin orang di belakang kalo dia gak ngasih balik/gak ngasih yang sebanding dengan apa yang lo kasih, masih suka gunjingin hal itu di belakang, kan? Entah itu ngegunjing sama emak lo sendiri, suami lo sendiri, atau sodara/temen dekat lo sendiri. Ngaku aja, masih ada rasa pamrih walau secuil. Udah istighfar?
Rupanya aku baru ada pikiran gak suka doang sama budaya pamrih itu, belom ada trauma. Di acara 7 bulanan anak pertamaku, aku buat acara tasyakur kecil-kecilan, niatnya emang kecil-kecilan kok, duh...kita bukan orang kaya, nikah baru 1 tahun, masih belajar mencari uang dan mengelola keuangan. Menjelang acara itu, kuterimalah itu pemberian-pemberian dari orang (kebanyakan saudara) yang katanya untuk nambah-nambahin buat acara. Ada yang ngasih sekian kilogram beras, buah, kelapa dan gula.
Tapi setelah acara selesai...Jeddeeerrr!!!
Aku syok dan susah payah buat nolak stress karena gak mau janinku ikutan stress.
Aku diomong-omongin, sama saudara sendiri, setelah acara selesai itu, ada nganter-nganterin lagi tuh, beda dari berkat, untuk orang-orang yang udah ngasih buat acara, aku diomong-omongin, katanya, menurutnya pemberian dariku tidak sebanding dengan yang beliau beri ke aku.
Sudah kuberi makanan lebih banyak untuk yang sudah ngasih, aku gak ngalalaorakeun se-kamampuan aku gak nyepelein, dengan tempat yang lebih baik pula, sayangnya kemampuanku yang waktu itu segitu adanya dianggap rendah sama beliau :') gak ada sedikitpun niat tidak menghormati,
apakah sebuah penghormatan itu membutuhkan bandrol nilainya agar dikatakan LAYAK?
Aku jadi nyesel, kenapa harus kuterima pemberian darinya? Kenapa gak aku tolak aja?
Semenjak itu, trauma tentang hadiah sudah sangaaaattt-sangaaatt membekas dan wis bener-bener kapokkapokkapokk!!!!
Aku GAK MAU lagi di momen atau acara DIKASIH HADIAH oleh siapapun! Terkecuali dari darah daging sendiri, orangtua atau kakakku. Istilah saudara-pun aku tetep berhati-hati, karena aku gak mau menodai persaudaraan hanya karena hadiah yang dibuat pamrih.
Padahal sunnah, ya, memberi hadiah dan menerima hadiah. Tapi, sayangnya sunnah itu ternodai oleh adat istiadat yang malah lebih dijunjung tinggi daripada sunnahnya.
Orang lain gak ada yang tau kapan ulang tahunku. Ada yang pernah tau mungkin sudah lupa. Aku sengaja, supaya aku gak dikasih apa-apa. Ultah anakku pun cuma sama orang tua, adik/kakak dan kakek neneknya, kita sendiri yang siapkan kado-kadonya, kita buat kado-kado yang banyaaakk dari orang tuanya/kakek neneknya sendiri. Bukan dari orang lain.
Dan jika anak kedua-ku laki-laki, mau dikhitan tanpa ada acara hajat khitanan nanti. Karena aku gak berharap dikasih apa-apa. Dan anakku biar orang tuanya saja yang ngasih banyak hadiah, semoga selalu Allah mampukan.
Aku cuma pengen bersilaturahim dengan nyaman, gak pamrih, aku mau tenang saat aku ngasih hadiah ke orang, aku mau merasa bahagia saat mampu berbagi, aku mau saat aku buat acara tasyakuran betul-betul khidmat penuh syukur tanpa terbebani apapun.
Aku gakmau merasa bahwa aku punya "hutang pemberian" yang harus kubalas dengan yang sebanding. Sungguh kurang nyaman sama budaya seperti itu. Kita gak pernah tau keadaan kita kelak seperti apa, boleh jadi rejeki kita gak selalu banyak dan lengkap.
Dan kalau bukan oranglain yang memulihkan sunnah memberi & menerima hadiah kepada fitrahnya (tidak pamrih), maka berusahalah agar kita yang tetap teguh menjalankan sunnah itu tanpa pamrih.
Mau ngasih, ya, ngasih aja...jangan pamrih, jangan berharap dikembalikan kelak apa yang kita kasih, jangan berharap dikembalikan sebanding dengan hal yang pernah kita kasih.
Dan saat menerima, disyukuri hadiahnya dan hargai saja untuk menjaga hati pemberinya.. Jangan lupa untuk nge-rem penghinaan pada hadiahnya meski dalam hati, nge-rem ngegunjing meskipun hanya dalam hati.
Keikhlasan bukan hanya saat kita memberi, tapi juga saat kita menerima. Saat kita menerima hadiah yang tidak seberapa, ikhlas saja diterima tanpa harus merendahkan si pemberi.
***
Kita tau ukuran kemampuan kita, gak harus memaksakan atau menipu diri sendiri untuk bisa diterima. Tidak semua penerimaan layak diperjuangkan dengan mengorbankan diri.
Jika harus berkorban diri dan berpura-pura "punya" demi dianggap cukup bagi mereka, mungkin tempat itu bukan untuk kita.
Tak perlu bergantung ataupun haus pengakuan orang lain.
Lagipula kata orang sunda "hade goreng pasti diomong",
Kita tidak akan pernah selamat dari LIDAH MANUSIA.
Jadilah diri sendiri dan bergabunglah dengan mereka yang tulus menerimamu apa adanya..
Comments
Post a Comment