Back To YOU
“Aku takut mati.” Suaraku bergetar, pucat. Dalam benakku, salah satu organ kita terluka saja terasa sakit, apalagi sakitnya badan kita saat nyawa dikelupas dari tubuh? Duhai…aku selalu pucat dan gemetar bila mendengar kabar kematian. Dadaku panas dan sesak, nafasku berat bila menghadiri upacara pemakaman orang. Rasanya ingin selalu lari dan menghindar. Namun aku sangat sadar, bila kematian telah sampai pada giliranku, aku tak mungkin lolos dalam pelarian. . “Nduk…Kita hidup bukan belajar hidup, bukan belajar bagaimana hidup dengan baik. Melainkan kita hidup untuk belajar mati, belajar bagaimana mati dengan baik. Belajar cerdas ingat kematian. Belajar dengan baik mempersiapkan kematian. Bila "baik” dalam belajar mati, maka “baik"nya hidup akan mengikuti. Keduanya akan menjadi "baik” dihadapanNya. Insha Allah.“ Kata-kata itu akan terdengar indah menurut orang yang pikirannya sedang waras. Tidak sedang dalam keadaan takut dan paranoid sepertiku. Tapi, sungguh, kalimat ...