Posts

Showing posts from 2016

Sembilan Bulan

Selamat malam, kamu. Aku selalu menulis tentang kamu malam hari, karena malamlah waktu yang tepat untuk melepaskan kelelahan setelah seharian penuh pikiran dan raga bekerja untuk kebutuhan realistis,  saat yang tepat untuk aku bisa leluasa meninggalkan dunia realistis sejenak dan bercumbu dengan imajinasi dan mimpiku, seperti kamu yang (dulu) selalu mendukung semua mimpiku dan bersahabat dengan milyaran imajinasiku. Malamlah waktu yang menenangkan, seperti kamu (dulu) yang selalu menenangkan aku. Sudah sembilan bulan, tak terasa waktu berlalu begitu lebih cepat dari yang kukawatirkan, kukira satu bulan saja tanpamu akan terasa sangat mencekam, terasa lebih lama, lebih menjemukan, apalagi dua bulan, tiga bulan, empat, lima, enam,.. dan sekarang sudah sembilan bulan. Entah akan sampai berapa lama lagi. Setelah perpisahan kita di terminal Rambutan pada hari senin, tanggal 1 Juli 2013, pukul dua siang. Setelah lambaian tanganku dari Bus Executive warna biru tanda perpisahan padam...

Back To YOU

Image
“Aku takut mati.” Suaraku bergetar, pucat. Dalam benakku, salah satu organ kita terluka saja terasa sakit, apalagi sakitnya badan kita saat nyawa dikelupas dari tubuh? Duhai…aku selalu pucat dan gemetar bila mendengar kabar kematian. Dadaku panas dan sesak, nafasku berat bila menghadiri upacara pemakaman orang. Rasanya ingin selalu lari dan menghindar. Namun aku sangat sadar, bila kematian telah sampai pada giliranku, aku tak mungkin lolos dalam pelarian. . “Nduk…Kita hidup bukan belajar hidup, bukan belajar bagaimana hidup dengan baik. Melainkan kita hidup untuk belajar mati, belajar bagaimana mati dengan baik. Belajar cerdas ingat kematian. Belajar dengan baik mempersiapkan kematian. Bila "baik” dalam belajar mati, maka “baik"nya hidup akan mengikuti. Keduanya akan menjadi "baik” dihadapanNya. Insha Allah.“ Kata-kata itu akan terdengar indah menurut orang yang pikirannya sedang waras. Tidak sedang dalam keadaan takut dan paranoid sepertiku. Tapi, sungguh, kalimat ...

Membeli Mimpi Masa Depan

Membeli Mimpi Masa Depan : Hai impian, tetaplah menyala-nyala terang di dalam dada. Dengan tekat yang semakin membulat. Bersama geliat perjuangan beserta asam pahitnya rempah-rempah pengorbanan. Cepat atau lambat, harapan di masa depan itu akan menjadi kenyataan. Hai kau Sang Pemimpi Ulung. Sombongkanlah kata-katamu setinggi langit. Tapi tetap, rendahkan hatimu serendah-rendah tanah. Setinggi apa kau terbang, kau akan kembali ke tanah. Catatlah! Ini bukan perkara langit yang kau idamkan, tapi soal sayap-sayap mungil yang hendak kau kepak-kepakkan. Hai kau Merpati, hai pula kau Rajawali. Teruslah kepakkan sayapmu. Dengungkan dengan lantang kicaumu. Tajamkan pengintaian matamu. Pusatkan fokus dan pikiranmu.  Demi impian dan harapan di masa depanmu itu. Biarkan ayam-ayam berkotek. Acuhkan anjing-anjing menggonggong. Alam raya di langit biru itu adalah milikmu. Hai burung pemimpi berbulu besi berparuh baja. Bila nanti kau temui badai kala kepak sayapmu mulai mengib...