Sembilan Bulan
Selamat malam, kamu. Aku selalu menulis tentang kamu malam hari, karena malamlah waktu yang tepat untuk melepaskan kelelahan setelah seharian penuh pikiran dan raga bekerja untuk kebutuhan realistis, saat yang tepat untuk aku bisa leluasa meninggalkan dunia realistis sejenak dan bercumbu dengan imajinasi dan mimpiku, seperti kamu yang (dulu) selalu mendukung semua mimpiku dan bersahabat dengan milyaran imajinasiku. Malamlah waktu yang menenangkan, seperti kamu (dulu) yang selalu menenangkan aku.
Sudah sembilan bulan, tak terasa waktu berlalu begitu lebih cepat dari yang kukawatirkan, kukira satu bulan saja tanpamu akan terasa sangat mencekam, terasa lebih lama, lebih menjemukan, apalagi dua bulan, tiga bulan, empat, lima, enam,.. dan sekarang sudah sembilan bulan. Entah akan sampai berapa lama lagi. Setelah perpisahan kita di terminal Rambutan pada hari senin, tanggal 1 Juli 2013, pukul dua siang. Setelah lambaian tanganku dari Bus Executive warna biru tanda perpisahan padamu, lambaian yang tidak pernah kusangka ternyata itu adalah "benar-benar" tanda perpisahan untuk "kita".
Sembilan bulan, setelah lagu Roma Irama kita lantunkan semalam sebelum aku pulang, di sepanjang jalan, di atas motor bebekmu favoritku, di tengah keramaian kota metropolitan.
"Malam ini malam terakhir bagi kita, untuk mencurahkan rasa rindu di dada. Hehehe..."
"Jangan sok tegar, kamu."
"Haha" Kamu tertawa, terlihat karena terpaksa tertawa, agar aku tidak terlalu sedih untuk meninggalkan kotamu lagi, meninggalkan kamu, agar tidak mengeluarkan air mata saat perpisahan, agar kita tetap bahagia tertawa bersama sampai bus membawaku pulang kembali ke kotaku, sampai jarak akan memisahkan kita lagi, dan agar kaupun bisa menahan air mata malam ini.
"Hahaha" Aku balas tertawa.
"Jangan sok tegar, kamu."
Kupikir setelah malam itu, akan ada malam selanjutnya meski entah kapan, tapi kita pasti akan mengulangnya lagi, malam yang terlihat lebih indah karena ada bulan, sandal jepit swalow biru, perjalanan, dan kita... Kaubenar, malam itu adalah malam terakhir bagi kita.
Sembilan bulan, setelah kaumemberikan satu bungkus rokok kepada kernet bus, memintanya agar aku tetap terjaga aman sampai aku tiba di kotaku. Setelah nafsu makanmu menghilang seharian karena aku akan kembali pulang. Setelah kamu yang tak kunjung berhenti mengikuti bus yang masih berjalan merayap di sekitar terminal untuk mencari penumpang, kita tidak berhenti melambaikan tangan dan tersenyum menahan air mata, tapi tak terasa air mata pun menetes, membuatku malu karena kernet bus menangkap pemandangan dramatis kita siang itu. Setelah bus semakin jauh meninggalkan terminal dan harus berbelok ke arah pintu tol, pandangan kita terpisah, kau tak henti melambaikan tangan dengan air muka pilu, pandanganku benar-benar kehilangan kamu (yang tak kusangka) untuk sembilan bulan lamanya dan entah berapa lama lagi.
Setiap hari kumelalui jalan tol dekat rumahku, jalan itu sekarang membisu, jalan itu sekarang sudah tidak membawa rindu dan harapan untuk kembali lagi ke kotaku. Bus yang berhenti di ujung tol keluar tidak akan ada kamu lagi turun dengan celana jeans pendek dan kaos pendek, kamu selalu begitu setiap ke kotaku meskipun aku mengkawatirkan kondisimu jika masuk angin, sekarang tidak akan lagi kumenunggu kedatangan sosok yang kurindu di sana. Semua kembali seperti saat aku belum mengenalmu, bedanya sekarang aku sudah mengenalmu lebih dari sekadar mengenalmu namun harus melupakanmu.
Sembilan bulan aku masih saja menulis tentang kamu, tentang kita. Meski sudah banyak rumus-rumus akuntansi yang harus kupahami, berbagai macam literatur untuk bahan penelitianku, segala macam hal dan kesibukan yang membuatku penat, itu semua tidak berjasa untuk menghapuskan semua tentang kamu, tentang kita. Aku tahu apa yang kutulis rasanya sudah tidak lagi sama buatmu jika kaubaca sekarang, apa yang kuuraikan barangkali menjadi kalimat drama yang lucu bagimu, membuat kamu tertawa terbahak karena pernah melakukan kebodohan demi pengorbanan dan pembuktian cinta. Dalam cinta, adakah kebodohan? Apakah sekarang saat kausudah bersama kekasihmu yang baru sudah bisa disebut pintar dan benar? Aku hanya bertanya. Pertanyaan yang jawaban terbaiknya adalah tidak harus ada jawaban.
Sembilan bulan sudah tidak perlu lagi mencari-cari siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang egois dan siapa yang mengalah. Tidak perlu lagi kuungkit dan kubahas tentang bagaimana bisa kamu yang selalu begitu terlihat seutuhnya mencintaiku saat bersamaku, kita yang terlihat begitu mirip dan serasi di mata banyak orang, akhirnya bertemu perpisahan juga.
Sembilan bulan aku sudah tidak bisa melihatmu lagi, semakin gemuk atau kuruskah kamu? Semakin hitamkah kamu? Semakin dewasakah kamu? Semakin lucukah kamu? Semakin kuat dan tegarkah kamu? Aku menerka perubahan-perubahanmu. Matamu barangkali sekarang terlihat lebih segar, karena sudah tidak perlu lagi menelpon kekasih yang jauh hingga larut malam. Tawamu pasti terdengar lebih lepas. Senyum khasmu masih terlihat sama? Mungkin kamu terlihat lebih rapi dan gagah sekarang.
Sembilan bulan aku sudah berhasil melalui waktu tanpa kamu, sepuluh bulan, sebelas bulan, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, empat, lima, enam,... Entah sampai kapan. Apakah kita akan bertemu lagi? Mengingat jarak membentang keberadaan kita begitu jauh.
Setidaknya kita masih berada di bumi dan di bawah bulan yang sama. Barangkali itu saja sudah cukup, menurut Tuhan, bagiku, bagimu, bagi kita.
Comments
Post a Comment