Posts

Showing posts from November, 2021

love imperfection perfectly

Terkadang aku tidak boleh egois untuk menginginkan bahkan merubah seseorang yang aku cintai menjadi sama persis seperti apa yang aku inginkan. Pasti dan mesti slalu ada kekurangan dalam dirinya yang tidak harus kuhindari namun harus kumengerti. Sebab..aku pun pasti memiliki kekurangan yang menguji kesabarannya. Kita diberi hati untuk menyayangi, dan dianugerahi cinta untuk mampu menerima apa adanya. Menurutku, "mencintai sosok yang sempurna tanpa cela adalah hal yang sangat mudah bagi semua orang" Namun mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cinta yang sempurna...hanya cinta sejati yang mampu melakukannya.

Sampai Kapan Kita Bisa Bersama?

Sampai Kapan Kita Bisa Bersama? : Akhir-akhir ini aku sulit tidur. Bukan banyak pikiran, hanya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Salah satu hal yang membuatku rela t idak tidur hingga subuh, ya, karena mendengar suaramu di ujung telepon, hingga suara azan subuh menggema di masing-masing kota kita. Mendengar suara dan saling tertawa; itulah yang biasa kita lakukan, di samping membaca pesan singkat yang kautuliskan dengan rapi, dengan huruf dan tanda baca yang penuh intonasi. Dalam jarak sejauh ini, tak banyak hal yang bisa kita lakukan, selain menulis dan mendengar; bukan bersentuhan. Padahal, tahukah kamu tulisan dan suara yang terdengar di ujung handphone sungguh jauh berbeda dengan pertemuan nyata? Iya, tidak akan kubahas lagi, aku selalu hapal nasihatmu ketika aku mengungkit soal ini, "Sabar." katamu dengan suara parau, "Kita bisa lewati ini." Kita terus berjuang dan melewati yang memang tak pernah kita minta untuk terjadi. Seperti takdir, dia d...

Cinta Tak Butuh Pengorbanan

Cinta Tak Butuh Pengorbanan :  Saya masih mengurusi luka yang tergores beberapa minggu yang lalu. Luka yang saya obati sendiri, dengan jemari saya sendiri, dengan perjuan gan sendiri. Di hidup ini, harus ada yang datang dan pergi, agar saya paham arti singgah dan menetap. Di hidup ini, harus ada yang tinggal dan menghilang, agar saya tahu yang terbaik pastilah yang tetap tinggal dan tidak akan menghilang; kecuali jika Tuhan mengizinkan "kehilangan". Saya tak tahu bahwa kebodohan saya bisa begitu berlipat ganda. Saya tak yakin jika ini semua saya lakukan karena saya mencintai dia. Rasanya sangat sulit melupakan sosok yang saya harapkan tetap tinggal tapi ternyata dia pergi. Sungguh sangat berat menghilangkan seseorang yang saya kira akan menetap tapi pada akhirnya dia pergi. Saya, sebagai manusia biasa, hanya bisa berharap pada setiap pertemuan, dan berdoa agar perpisahan tak cepat-cepat merenggut dia dari genggaman saya. Sebagai manusia yang serba terbatas, saya han...

Aku, Dalam Definisi Tentangmu

hati dalam tinta: Aku, Dalam Definisi Tentangmu : Aku adalah kumpulan perasaan tak terdefinisikan yang memanggil namamu dalam mimpi-mimpi tanpa bentuk. Aku adalah mimpi-mimpi tanpa bentuk yang gelisah menyampaikan kecupan-kecupan kepada perasaanmu yang mengabut. Aku adalah arak-arak kabut tak berarah yang mengalir mencari-cari lelaki yang ingin kutanyai tentang rindunya. Aku adalah bentuk-bentuk rindu tanpa izinmu yang tercipta ketika pikiran-pikiran kita bersinggungan. Aku adalah kumpulan pikiran kacau balau yang berusaha meraih orgasmenya saat mencoba mengartikan perasaanmu. Aku adalah kumpulan perasaan tak terdefinisikan yang memanggil dirimu dalam luap-luap rasa tanpa arah. senja akhir September - untuk kamu -

Pemilik Rumah Berpintu (yang Awalnya) Terbuka

Roema Matari..: Pemilik Rumah Berpintu (yang Awalnya) Terbuka :      Seseorang melintas di sebuah rumah berpintu terbuka. Ia masuk begitu saja lalu kembali dengan membawa surat rumah. Pemilik rumah mulanya tidak menyadari. Ia lantas histeris saat mengetahui inti dari rumah sudah dibawa lari. Ia histeris. Ia histeris      B erikutnya ia memagari rumahnya. Pintunya ia buka separuh. Seseorang datang, berdiri di depan gerbang. Si pemilik mengira orang itu adalah yang mestinya datang. Ia bukakan pagar, ia persilakan masuk ke dalam rumah. Pemilik rumah juga menyuguhkan minuman. Kala ia menyiapkan minum itu, oknum tamu beraksi. Ia pun pencuri, ternyata. Perhiasannya hilang, kendaraannya lenyap. Kembali pemilik rumah histeris. Histeris.        Rumahnya berpagar. Kini ia pula tutup pintu dan mengunci rapat-rapat. Namun, yang kita tahu inti rumahnya hilang. Ia masih menanti tamu yang seharusnya sambil menekan perih d...

Dara

Dara : 8 Januari, 5 tahun silam, Dara kehilangan keperawanan. Itu pun kalau keperawanan hanya dimaknai sebatas selaput dara. Dan jika selaput darah itu robek, maka hilanglah keperawanan dari ia – yang tadinya – diagungkan sebagai gadis. Mika, nama lelaki itu. Lelaki yang kegagahannya telah meledakkan berahi Dara di malam naas itu. Tidak. Dara tidak diperkosa, tapi ia membiarkan dirinya terbuai dalam bisikan penuh godaan dari lelaki yang mengaku mencintainya. Dara, kini bukanlah dara seperti namanya. Dara telah kehilangan kegadisannya. Setidaknya, itu menurut pemikirannya sendiri. Mika, lelaki berparas biasa saja. Badannya kurus kerempeng khas anak kuliahan yang menggantungkan kesejahteraan perut di akhir bulan hanya pada mie instant. Namanya bak malaikat, pun tatapan matanya. Itulah yang membuat dada Dara tertancap panah si Cupid. Umur Dara kala itu baru 19 tahun. Semerbak untuk anak gadis yang segera beranjak dewasa. Dan menggoda mata lelaki untuk menelanjanginya...

Aku Ingin Kamu Pergi

Aku Ingin Kamu Pergi : Untuk Si Tukang Galau, Aku sudah baca tulisanmu mengenai kesedihan yang selalu kaulebih-lebihkan itu. Mengapa kamu begitu mudah menikmati  perasaan sedihmu dan melarikan segalanya ke dalam tulisan? Dewasalah, Sayang, seharusnya setelah kutinggalkan; itulah kesempatan kaubisa belajar banyak hal. Jangan dikira aku tidak membaca tulisanmu, diam-diam aku memerhatikan curahan hati di  blog -mu dan saat jam-jam segini, aku sering mengintip lini waktu akun Twitter-mu, mencari-cari adakah sosokku dalam rintihan kegalauanmu? Sambil mengisap rokok yang asapnya selalu kaubenci, juga menyesap kopi yang rasanya selalu kaucaci;  aku berusaha keras menulis ini. Semoga apapun yang kukatakan secara jujur di sini, tak akan membuatmu kecewa. Aku memang kuliah di Jogja, dengan budaya Jawa yang sangat kental, tapi di sini aku tak akan memberi  sanepa  atau kode atau isyarat seperti kamu selalu memberiku bahasa-bahasa perasaan aneh itu lalu memintak...

Aku Hanya Butuh Terbiasa

Aku hanya butuh terbiasa Terbiasa sakit Sampai ada yang bertanya  "apa kau baik-baik saja?" Aku sudah mampu menjawab "aku baik-baik saja (dalam sakit)" Bisa karena terbiasa, bukan? Hingga kebal...

Find Me in the Palace

Image
Kupikir kau bagai ksatria yang kan menjemputku dari perlindungan kokoh istana ini. Kupikir kau bagai pangeran tangguh yang kan membawaku dengan gagah berani menuju singgasanamu. Aku salah menilaimu. Aku salah memperlakukan kita. Ternyata kau bagai putra pemalu yang harus didatangi di istanamu. Ternyata kau bagai pangeran lugu yang harus dengan lembut dibujuk berbaju gagah dibekali pedang untuk menyadarkanmu ada permaisuri yang harus kauperjuangkan di luar sana. Niatmu sama kokohnya denganku. Tujuanmu sama dengan tujuanku. Maksudmu sama dengan inginku. Namun cara yang kupikirkan tak sama dengan caramu. Hingga putri di seberang sana bagai memotong impianku dengan ribuan sembilu. Dia yang mengetuk istanamu terlebih dulu, tak pernah kupikirkan aku harus lakukan itu. Dia yang mengajakmu terlebih dulu, tak pernah kubayangkan aku harus lakukan itu. Aku pun payah! Bagai putri yang hanya menanti ksatria datang menjemputku. Bagai putri yang hanya menunggu ...

Takdir Selalu Begitu

Image
gambar diambil dari  sini Takdir selalu begitu, menerobos masuk ke dalam lorong waktu hidup, tanpa ucap permisi, tanpa kompromi, pun negosiasi. Begitu lincah mengukir coretan dalam lembaran hidup, tak peduli abu-abu tak peduli merah jambu tak peduli hitam legam "Aku hanya titah Tuhanmu." Katanya. Ah, Tuhan. Lagi-lagi Dzat itulah yang membuat bibir kelu mengeluh Lagi-lagi Dzat itulah yang membuat wajah memerah malu Lagi-lagi Dzat itulah yang membuat batok kepala memberat takluk menunduk "Baiklah." Kataku. Bila ini ingin Sang Pemberi Segala Sombong bila diri merasa, "harusnya begini, loh, Tuhan." Siapa aku?