Posts

Showing posts from 2014

Jakarta dan Kamu

Ada yang selalu menggelitik benakku, ada yang selalu menarik pikiranku, Jakarta dan kamu. Sesekali kuhirup dalam-dalam udara malam ini, menyadari raga ini kembali berada di kotaku setelah beberapa bulan lalu aku sempat merasakan udara di kotamu. Entah magis apa yang berhasil membuat hati dan ragaku nyaman berada disana, betah? Mungkinkah aku hanya tergoda gemerlap yang menggiurkan disana? Atau mungkin karena ada kamu. Kotaku sudah cukup ramai dengan deru mesin kendaraan berlalu lalang di sepanjang jalan, kilau lampu malam yang tidak begitu terang dan lampu mini market ikut pula menerangi sebagian jalan dilengkapi teriakan tukang parkir dengan peluitnya. Jauh berbeda dengan kotamu yang sangat terang benderang oleh sinar lampu gedung pencakar langit, ribuan kendaraan yang tiada henti mengisi puluhan kilometer sepanjang kota dan meriahnya lampu-lampu jalanan mengalahkan terang sinar bulan pemberian Tuhan. Aku masih asik bercumbu dengan pikiran, perasaan dan imajiku. Aku ...
Hai, Metropolitan. Selamat bertemu lagi... Seperti janjiku yang sudah-sudah, kalau aku sempat, aku pasti datang mengunjungimu. Sepertinya sihir monas yang orang ceritakan memang benar. Meski cerita dan duniaku sekarang sudah berubah, namun setiap sudutmu memiliki arti tersendiri bagiku. Aku banyak belajar darimu, kota seribu karya, sejuta inspirasi. Kali ini aku akan menyapa Neptunus, dewa lautku di tanahmu. Doakan perjalananku menyenangkan yaa.. :) Salam Rindu, dariku.

I'm Phantom-Hugging My Daddy

Aku mengenal sosok penyayang, romantis, perhatian, penuh cinta, wibawa, bertanggung jawab, tegar, pemimpi besar, memiliki visi besar, pekerja keras. Aku mengenal sosok yang selalu memberikan rasa persahabatan dalam ikatan cinta, pencemburu, melindungi, membimbing, tak lelah menemani. Aku mengenal sosok rendah hati, berbudi luhur, baik hati dan senang berbagi. Aku cukup sangat mengenalmu dari rangkaian cerita dan kumpulan gambar bisu. Sesederhana itu, aku langsung menobatkan dirimu menjadi cinta pertama dan terakhirku. Saat itu aku masih nyaman berada dalam kantong ajaib, rahim Mama, yang sangat nyaman kuhinggapi dalam masa pertumbuhanku disana. Ada? Cinta yang tumbuh tanpa pertemuan nyata? Ada! Saat Tuhan tidak mengijinkanku untuk menyaksikan kepergianmu dari dunia yang baru saja akan kutempati. Saat Tuhan hanya mengijinkanku untuk memelukmu sebatas berpantomim. Meskipun mata kita tak pernah menatap saling bersinggungan menerjemahkan cinta sejati, tap...

Selamat Berjuang, Kamu

Apa kabar, kamu? Yang dulu sempat menjadi inspirasi yang tak kunjung berhenti mencekokiku. I wanna dare you about..."GRADUATION!" Kalau saja saat ini kita masih berbagi seribu cerita, sejuta ide, milyaran imajinasi. Tawa dan nasihatmu di ujung telepon tidak pernah tidak menemaniku hingga lewat tengah malam, semua hal yang kita bahas memang akan selalu asik, bahkan saat mendebatkan argumen sudah seperti suasana diskusi kelas di kampus. Apalagi karena kita memiliki hobby yang sama; berbisnis. Aku dan kamu sempat seperti partner profesional setiap minggunya membahas bisnis yang kujalani dan yang kamu jalani. Kita pernah merasa sangat nyaman, semua masalah yang sedang dihadapi kita bagi cerita bersama, saling mengingatkan, saling menasihati, kita pernah merasa begitu lengkap, meski dalam bentangan ribuan kilometer. Kita pernah merasa sangat bahagia, saat meretas rindu yang tertahan berbulan-bulan, dengan perjuangan yang belum tentu semua orang mau melakukan. Kalau s...

Menunggu Hujan Reda

Halte depan kampus masih terasa nyaman untukku di tengah waktu hujan mengguyur kota udang ini. Hujan membuat siang menjadi redup, dan membuatku mengurungkan niat untuk seharusnya sudah sampai di rumah satu jam lalu setelah selesai jam kuliah pukul satu siang tadi, sesalku tak menyediakan payung. Bola mataku asik bergerak kesana kemari melihat lalu lalang kendaraan yang mulai jarang seiring semakin derasnya hujan dengan petirnya yang semakin kencang. Tak ada banyak orang di tempatku berteduh ini, hanya ada aku dan seorang pria yang berdiri tegak di sampingku, dengan jaket jeans berwarna hitam dan membiarkan rambut lurus berponinya basah karena sempat terkena hujan sewaktu ia berlarian menuju tempat ini untuk menghindari hujan. Pria yang wajahnya tak asing bagiku. Sweater tipis yang kupikir dapat melindungiku dari dinginnya udara tak cukup menghangatkan badan dan menenangkan bulu kudukku yang merinding. Sesekali kugesekan kedua telapak tanganku yang terlihat memucat. Hujan bena...

Heart Tale is True

Sejak delapan bulan lalu, aku sudah menyuruhnya untuk berhenti mengunjungimu, kupinta ia untuk tetap berada disini, tak peduli ia merasa pengap, tak peduli ia membesar, tak peduli ia semakin parah, tak peduli... “Kamu jangan menyalah-nyalahkan Rindu! Dia tidak bersalah! Kaulah yang bersalah!” Punggungnya terlihat semakin menjauh, meninggalkan aku tanpa perasaan bersalah, membiarkan Rindu menangis tanpa merasa berdosa. Namun, Logika masih terlihat tegar dan tidak ada kerapuhan sedikitpun yang kulihat darinya, ia malah melambaikan tangan tanda perpisahan dilengkapi senyum merdekanya. Aku tidak mengijinkan Rindu untuk bersapaan dengan Angin malam ini, sebab kemarin malam, kudengar Angin mengabarkan, “Ia sudah semakin mesra dengan kekasih barunya. Kuharap, kau tak lagi menyayanginya, menantinya, merindukannya. Tak pantas.” Aku memutuskan untuk merahasiakan pesan itu pada Rindu. Aku tidak ingin ia marah, semakin memuncak, semakin membengkak. Sebab aku sudah meyakinkan dia, “Meskip...

Hitam Manis

Image
A Hopeless Romantic Woman: Sejumput cahaya menyeruak ke dalam kegelapan dan memaksa mataku untuk membuka perlahan. Butuh penyesuaian dengan sinar yang menusuk mataku sepersekian detik, sampai akhirnya pandangan samar-samar di depanku menjadi jelas. “Aku di bawa kemana ini?” tanyaku dalam hati. Sementara tubuhku masih meringkuk di antara botol-botol besar yang ada di ruangan ini. Bau alkohol menyengat dari segala sudut menggelitik hidungku. Aku sudah hafal dengan baik botol berisi alkohol ini, yang biasanya juga ada di gudang rumah Ayah. Aku mencoba untuk membangunkan badan mungilku sendiri, sedikit mengulet dan ah, sakit rasanya seluruh sendi ini. Ini pasti karena semalaman aku harus berbaring tanpa alas. Dengan susah payah aku berdiri sambil mengutuki kebodohan fatal, sampai aku bisa terjebak di sebuah mobil box yang berisi puluhan botol alkohol. Masih jelas kuingat kemarin sore, aku sedang tertegun di depan halaman rumah. Senja, tiupan angin, dan daun yang gugur dari pohon ...

Kupikir Enam Puluh Detikmu Sama Dengan Enam Puluh Detikku

Image
Menunggu bukan perkara yang mengasyikkan, Sayang. Sudah habis satu botol minuman teh sedari tadi kumenunggu balasan bbm darimu. Jeda enam puluh detik kupikirkan akan kubuat apa sambil menunggumu. Satu film sudah kutonton habis di televisi kamarku sambil berbaring dan sesekali melihat ponselku berdering, kuharap itu kamu. Tapi, bbm balasan darimu belum juga ada. Jeda enam puluh detik kupikirkan lagi akan kubuat apa sambil menunggumu. Tiga puluh dua lagu sudah kudengarkan melalui MP3 di ponselku sekadar membunuh jenuh menunggu bbm balasan darimu. Jeda enam puluh detik kupikirkan lagi akan kubuat apa sambil menunggumu. Satu novel berhalaman seratus delapan puluh enam sudah habis kubaca dalam satu waktu membuang bosan menunggu bbm balasan darimu. Jeda enam puluh detik kupikirkan lagi akan kubuat apa sambil menunggumu. Satu piring nasi sudah kuhabiskan menghilangkan lapar sambil menunggumu. Tapi, bunyi di ponselku belum juga ada yang berisi bbm balasan darimu. ...

Darah Perawan

Darah Perawan : "Kenapa tidak berdarah? Apakah sebelumnya kamu pernah ditiduri lelaki lain? Jawab!" bentak lelaki itu sambil terus menggenjot tubuh wanita di bawahnya. Wanita itu hanya bisa diam, sambil menghela napas sesekali. Hampir semalaman mereka beradu, membiarkan tubuhnya ditindih dan dimasuki sesuatu yang sama sekali asing baginya. "Ahh..." desah lelaki itu puas dan kemudian membaringkan tubuhnya tepat di samping wanita tadi. Wanita itu memeluk tubuh sang lelaki dari belakang. Menciumi punggungnya yang terasa asin karena dipenuhi keringat setelah bergulat dengannya. "Ini kali pertama aku bercinta, Sayang. Percayalah padaku!" ucapnya pelan. Si lelaki membalikkan tubuhnya, menatap wanita itu dengan tatapan tajam. "Tapi kenapa tidak berdarah?" tanya lelaki itu sekali lagi. *** 3 bulan berlalu setelah "malam pertama" itu, si wanita masih saja menjadi objek pemuas nafsu sang lelaki. Hampir tiap malam badann...