Heart Tale is True
Sejak
delapan bulan lalu, aku sudah menyuruhnya untuk berhenti mengunjungimu, kupinta
ia untuk tetap berada disini, tak peduli ia merasa pengap, tak peduli ia
membesar, tak peduli ia semakin parah, tak peduli...
“Kamu
jangan menyalah-nyalahkan Rindu! Dia tidak bersalah! Kaulah yang bersalah!”
Punggungnya
terlihat semakin menjauh, meninggalkan aku tanpa perasaan bersalah, membiarkan
Rindu menangis tanpa merasa berdosa. Namun, Logika masih terlihat tegar dan
tidak ada kerapuhan sedikitpun yang kulihat darinya, ia malah melambaikan
tangan tanda perpisahan dilengkapi senyum merdekanya.
Aku tidak mengijinkan Rindu untuk
bersapaan dengan Angin malam ini, sebab kemarin malam, kudengar Angin
mengabarkan, “Ia sudah semakin mesra dengan kekasih barunya. Kuharap, kau tak
lagi menyayanginya, menantinya, merindukannya. Tak pantas.”
Aku memutuskan untuk merahasiakan pesan
itu pada Rindu. Aku tidak ingin ia marah, semakin memuncak, semakin membengkak.
Sebab aku sudah meyakinkan dia, “Meskipun aku biarkan kamu untuk tetap disini
dan tidak usah menghampirinya, dia pasti tahu keberadaanmu, Rindu. Hanya saja
saat ini, inilah yang sedang harus kita jalani dulu. Bumi hanya sedang
berputar.”
***
“Kau
tega melihatku dan Rindu seperti ini?!” Aku bertanya dengan nada sedikit
membentak Logika, sebab ia yang sangat ingin aku untuk mengabarkan berita dari
Angin kepada Rindu.
“Kau
bodoh!” Ia jauh lebih pandai membentak.
“Kau
tahu apa?”
“Aku
tahu! Kau bodoh!”
“Kau
tak punya perasaan! Kau tak tahu apa-apa!”
“Sungguh,
kau bodoh!”
“Diam!
Kau hanya bisa mengguruiku tanpa alasan yang bisa kupahami!”
“Sebab
kau bodoh! Kau tak memercayaiku untuk memahami.”
“Sudahlah,
diam. Nanti Rindu dengar.”
“Kalian
berdua bodoh.”
Aku
tidak peduli lagi dengan ucapan lugas entah kasarnya Logika kepadaku.
***
“Kamu tidak apa-apa?” Aku kawatir pada
keadaan Rindu.
“Aku tidak apa-apa.” Jawabnya merintih
sambil menyimpulkan sedikit senyum terpaksa.
“Tapi luka bengkakmu semakin membesar.”
“Aku tidak apa-apa. Percayalah. Seperti
aku yang selalu memercayaimu tentang dia yang tahu keadaanku. Bumi hanya sedang
berputar. Benar, bukan?”
“Satu saat, bukan aku yang akan
menghampirinya, tapi dia yang akan menghampiriku, mengobatiku.” Lanjutnya.
Aku tidak kuasa lagi menahan mataku yang
terasa semakin memanas dan menguapkan titik-titik air.
“Tak usah sok tegar, Rindu.” Logika
menerobos pembicaraan kami, ia selalu lebih pintar dalam segala hal, termasuk
mendengar pembicaraanku dengan Rindu.
“Apa kau tak ingin orang lain saja yang
mengobati? Yang lebih pantas untuk disebut pengobat. Pembawa kebahagiaan.”
Logika melanjutkan petuahnya dengan nada sedikit sinis.
“Dia penyebabku seperti ini, hanya dia
yang bisa mengobati. Orang lain tak akan berkenan.”
“Dasar bodoh!”
“Diam!” Aku marah bersama air yang mulai menetes dari mataku, tapi
Rindu melerai.
“Jangan buat Putri menangis!” Rindu
memberanikan diri untuk sedikit membantak Logika.
“Bodoh! Bukan aku yang membuat dia
menangis, tapi kaulah!”
Dadaku semakin terasa terhimpit, sesak,
entah sampai kapan kubiarkan aku, Logika dan Rindu berkecamuk, bertikai hebat.
***
Kini kubicara pada teman kecilku yang
memiliki halaman indah dan sangat luas. Seperti inti, di tengahnya terdapat
rumah mungil cantik memiliki pelataran yang juga sangat luas, tidak sembarang
orang dapat memasukinya.
“Kecil, aku yakin, kamu tidak peduli
dengan pertikaian kami; Aku, Logika, dan Rindu. Karena kutahu, kamu luas
bak samudera bagiku, kumohon, bantu dadaku melega oleh keluasanmu... Keluasan
hati.”
Rumah itu; rumah si Kecil, rumahku jua.
Kami merawatnya sejak kami kecil. Meski si Kecil tetap menjadi si Kecilku yang
manis, menemaniku tumbuh dewasa. Rumah itu masih terkunci rapat, tapi ia masih
terlihat indah, pelataran dan halamannya masih terlihat segar, meski kabarnya
ia telah kemasukan pencuri. Satu hal yang semua orang di muka bumi ini tahu,
bahwa seorang pencuri tidak akan mungkin kembali lagi mengembalikan apa yang
sudah ia ambil. Kalaupun kembali, ia hanya berniat untuk mencuri, lalu pergi,
lagi...
Pencuri itu, yang dulu ia menjelma bak
malaikat, sebelum kutahu ia berniat mencuri. Dia yang selalu bermain dengan
Rindu. Dulu aku, dia, dan Rindu selalu bersama-sama merapikan rumah si Kecil,
membersihkan pelataranya, menyiram halamannya dan bahkan menanam tanaman dan
bunga-bunga yang tadinya aku tidak bisa mendapatkannya untuk kutanam, si Kecil
sangat bahagia kala itu. Tetapi, sejak dia pergi, kami sadari dia hanya
menginginkan kunci rumah si Kecil; rumah kami. Kunci yang terbuat dari lapisan
tulus bak baja dibalut benda kemilau yang disebut kasih bak berlian, ditaburi
kerlap kerlip yang disebut cinta bak permata intan. Mama yang memberikan kunci
itu kepadaku.
“Ini, pakailah ini, Sayang, untuk
menjaga rumah si Kecil, rumah kalian. Agar tidak sembarangan orang bisa masuk.”
Nasihat mama saat memberikan kunci itu padaku, saat pipi kemerahan mulai ia
lihat pada wajah putri kesayangannya dan tersipu malu-malu bila dekat lelaki.
“Indah sekali, Ma.”
“Kau perlu tahu, sayang, hanya orang
yang memiliki ketiga hal dalam kunci itulah yang bisa membuka rumah si Kecil,
tidak hanya bisa sekadar membawanya.”
Pencuri mengetahui betapa bernilainya
kunci itu, ia tahu saat kumulai memercayainya untuk kubagi cerita-ceritaku,
termasuk tentang kunci itu. Semenjak pencuri pergi lah, Rindu mulai merindu.
“Ia hanya bisa membawa, tidak membuka.”
***
Langit malam sudah semakin gelap, Logika
mencoba menyapaku yang lama membisu menatap bintang. Dengan sedikit
tergopoh-gopoh ia berjalan menghampiriku, kutahu ia bekerja lebih keras dari
yang lain. Kali ini ia beraroma tenang, kusambut kehadirannya.
“Kumohon, jika kau ingin memberikan
petuah untukku, pelan-pelan, jangan tergesa-gesa, jangan mengagetkanku,
rendahkan nadamu.”
Ia benar-benar terlihat tenang, “Putri,
semua rumah tak hanya memiliki satu pintu, masuklah melalui pintu yang lain,
lalu kaubuatkan lagi kunci bagi pintu yang sudah lama tertutup, persilakan
seseorang masuk, bersamamu. Pencuri tetaplah pencuri, biarkan ia enyah sejauh
mungkin dari hidupmu. Kau lebih baik memikirkan seorang Pangeran, daripada
waktumu kauhabiskan untuk memikirkan seorang pencuri.”
Aku tidak dapat berucap apa-apa. Dia
benar. Dia mencoba menyadarkanku dari kebodohan yang sudah berkali-kali
berlipat ganda.
“Oh, iya, ada yang kulupa, aku tak ingin
ini tertinggal.”
“Apa?”
“Masih pesanku.”
“Ya?”
“Kau lebih terlihat manis jika
tersenyum.”
***
“Mama, bisa mama membuat kunci baru
untuk rumah si Kecil lagi? Maafkan aku, Ma. Aku tidak bilang. Kuncinya sudah
lama hilang.”
Mama hanya tersenyum, tidak banyak
berkomentar, tidak pula banyak bertanya tentang siapa yang mengambilnya dan
bagaimana bisa. Kutatap matanya seperti peri yang sudah cukup tahu segalanya
tanpa diberi tahu dan tanpa berkomentar perih sedikitpun, hanya menantiku untuk
berbicara, menanti kedewasaanku kulontarkan dari mulutku, meski termetaforakan
karena malu-malu.
“Bisa, Sayang. Mama selalu punya
bahannya untuk membuatkannya lagi. Bahkan bisa yang lebih bagus. Tapi, ini
dijaga baik-baik. Itu artinya harus hanya untuk orang yang lebih khusus lagi.
Tidak sembarangan.”
Kulihat tangan Mama diarahkan ke dalam
sinar terang yang sangat cantik terpancar dari dada kiri Mama.
“Ini, kuncinya yang baru.”
“Lebih bagus, Ma. Cantik sekali.”
“Dari tiga hal yang dulu ada di kunci
yang lama, Mama tambahkan satu hal lagi. Di dalamnya.”
“Apa itu, Ma?”
“Butir setia. Terang sekali, Mama hanya
menaruh satu butir dalam lapisan tulus, lapisan setelahnya sama dengan kunci
yang lama.”
“Hanya satu, Ma?”
“Ya, hanya satu, Sayang. Jaga baik-baik,
ya?”
Kunci itu terlihat lebih cantik,
kupikir, satu butir yang terang itu memancar dari dalam, sehingga membuat kunci
ini lebih berkilau, lebih indah, lebih cantik. Aku bahagia sekali
mendapatkannya. Kuikuti saran Logika padaku, kulihat ia sedang berbicara sangat
akrab dengan Rindu, seharian, semalaman. Kupercayakan semua hal yang ia
bicarakan pada Rindu tidak membuat siapapun termasuk Rindu merasa dibentak
lagi.
***
Sinar mentari pagi terpancar menembus
jendela kamarku, merangsang mataku untuk terbuka. Aku terkejut mendengar suara
kuda yang berteriak di pagi hari, ketukan sepatunya semakin mendekat dan
terdengar jelas. Terdorong rasa penasaran, kutengok melalui jendela kamarku.
Siapa
di luar?
Sesosok pria yang tidak kukenal, bermahkotakan
emas, berjubah merah, bercelana kuning emas, mengenakan sepatu putih, dengan
kuda poni cokelat, berbulu cokelat dengan sedikit loreng putih di bagian leher
dan perut kudanya. Mata pria itu indah, berbinar, senyumnya terpancar bahagia, wajahnya
terlihat damai, ia sedang menciumi aroma bunga di pelataran dan halaman rumah
si Kecil.
“Indah, harum sekali.” Katanya.
aroma satranya sangat menyeruak masuk ke blog ku :)
ReplyDelete