Heart Tale is True
Sejak delapan bulan lalu, aku sudah menyuruhnya untuk berhenti mengunjungimu, kupinta ia untuk tetap berada disini, tak peduli ia merasa pengap, tak peduli ia membesar, tak peduli ia semakin parah, tak peduli... “Kamu jangan menyalah-nyalahkan Rindu! Dia tidak bersalah! Kaulah yang bersalah!” Punggungnya terlihat semakin menjauh, meninggalkan aku tanpa perasaan bersalah, membiarkan Rindu menangis tanpa merasa berdosa. Namun, Logika masih terlihat tegar dan tidak ada kerapuhan sedikitpun yang kulihat darinya, ia malah melambaikan tangan tanda perpisahan dilengkapi senyum merdekanya. Aku tidak mengijinkan Rindu untuk bersapaan dengan Angin malam ini, sebab kemarin malam, kudengar Angin mengabarkan, “Ia sudah semakin mesra dengan kekasih barunya. Kuharap, kau tak lagi menyayanginya, menantinya, merindukannya. Tak pantas.” Aku memutuskan untuk merahasiakan pesan itu pada Rindu. Aku tidak ingin ia marah, semakin memuncak, semakin membengkak. Sebab aku sudah meyakinkan dia, “Meskip...