Darah Perawan
Darah Perawan:
"Kenapa tidak berdarah? Apakah sebelumnya kamu pernah ditiduri lelaki lain? Jawab!" bentak lelaki itu sambil terus menggenjot tubuh wanita di bawahnya. Wanita itu hanya bisa diam, sambil menghela napas sesekali. Hampir semalaman mereka beradu, membiarkan tubuhnya ditindih dan dimasuki sesuatu yang sama sekali asing baginya.
"Ahh..." desah lelaki itu puas dan kemudian membaringkan tubuhnya tepat di samping wanita tadi.
Wanita itu memeluk tubuh sang lelaki dari belakang. Menciumi punggungnya yang terasa asin karena dipenuhi keringat setelah bergulat dengannya.
"Ini kali pertama aku bercinta, Sayang. Percayalah padaku!" ucapnya pelan.
Si lelaki membalikkan tubuhnya, menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
"Tapi kenapa tidak berdarah?" tanya lelaki itu sekali lagi.
"Ahh! Stop it, Sayang!" tak tahan lagi teriakan itu keluar dari mulut si wanita.
Seakan tak menggubris lelaki itu malah melanjutkan menggerayangi tubuh kekasihnya. Saat mencapai puncak kenikmatan barulah dia terbaring lemah di samping wanita itu. Puas.
"Bukan cinta namanya ketika kamu hanya dijadikan objek pemuas nafsu. It's not so called love but it's lust!" tambah temannya dengan nada sinis.
"Aku sudah capek menasihatimu terus. Kamu sendiri yang harus memutuskan, apa selamanya mau menjadi budak nafsu atau berani bertindak untuk membebaskan dirimu dari sekarang. Toh, namanya lelaki berengsek saat dia sudah jenuh dengan 'mainannya' lama-lama juga dia akan pergi sendiri. Menghilang. Tanpa rasa bersalah." lanjut temannya lagi.
Kalimat yang seakan menghunjam jantungnya, membuat wanita itu semakin bingung. Dia merasa dipermainkan oleh lelaki yang sangat dicintainya.
Jika keperawanan adalah harga diri seorang wanita, berarti wanita yang sudah tidak perawan sudah tidak memiliki harga diri?
Atau itu hanya pandangan skeptik yang diciptakan para lelaki agar merasa lebih berkuasa dari wanita?
Agar lelaki bisa dengan mudah menindas wanita?
Entahlah. Wanita itu bahkan tidak tahu apakah dia masih bisa membuka hati untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain. Atau masih adakah lelaki yang bersedia menerima dirinya apa adanya, tanpa melihat masa lalunya, tanpa melihat apakah dirinya masih perawan atau tidak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Dan sayangnya waktu tak bisa diputar kembali untuk mengembalikan sesuatu yang sudah telanjur hilang.
"Kenapa tidak berdarah? Apakah sebelumnya kamu pernah ditiduri lelaki lain? Jawab!" bentak lelaki itu sambil terus menggenjot tubuh wanita di bawahnya. Wanita itu hanya bisa diam, sambil menghela napas sesekali. Hampir semalaman mereka beradu, membiarkan tubuhnya ditindih dan dimasuki sesuatu yang sama sekali asing baginya.
"Ahh..." desah lelaki itu puas dan kemudian membaringkan tubuhnya tepat di samping wanita tadi.
Wanita itu memeluk tubuh sang lelaki dari belakang. Menciumi punggungnya yang terasa asin karena dipenuhi keringat setelah bergulat dengannya.
"Ini kali pertama aku bercinta, Sayang. Percayalah padaku!" ucapnya pelan.
Si lelaki membalikkan tubuhnya, menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
"Tapi kenapa tidak berdarah?" tanya lelaki itu sekali lagi.
***
3 bulan berlalu setelah "malam pertama" itu, si wanita masih saja menjadi objek pemuas nafsu sang lelaki. Hampir tiap malam badannya ditindih hanya untuk membuat lelaki itu mendesah tanda puas. Ia tak bisa melawan, meskipun kadang ia kesakitan dan lelah meladeni kekasihnya.
"Kamu bodoh! Semurah itukah harga dirimu sampai mau menjadi budak nafsu lelaki berengsek itu?"
Kalimat tersebut mengiang-ngiang di telinga wanita itu. Entah sudah berapa kali, temannya mengucapkan kalimat yang sama. Dia merasa tertikam saat dicap pemuas nafsu oleh temannya sendiri.
"Kenapa, Sayang? Kenapa wajahmu tegang sekali?" tanya lelaki itu. Badannya masih menindih wanita itu.
Tidak ada jawaban.
Lelaki itu lalu melumat bibir wanita itu dengan beringas. Turun ke leher dan membuat wanita itu hanya bisa mengerang.
"Kamu bodoh! Semurah itukah harga dirimu sampai mau menjadi budak nafsu lelaki berengsek itu?"
Kalimat tersebut mengiang-ngiang di telinga wanita itu. Entah sudah berapa kali, temannya mengucapkan kalimat yang sama. Dia merasa tertikam saat dicap pemuas nafsu oleh temannya sendiri.
"Kenapa, Sayang? Kenapa wajahmu tegang sekali?" tanya lelaki itu. Badannya masih menindih wanita itu.
Tidak ada jawaban.
Lelaki itu lalu melumat bibir wanita itu dengan beringas. Turun ke leher dan membuat wanita itu hanya bisa mengerang.
"Ahh! Stop it, Sayang!" tak tahan lagi teriakan itu keluar dari mulut si wanita.
Seakan tak menggubris lelaki itu malah melanjutkan menggerayangi tubuh kekasihnya. Saat mencapai puncak kenikmatan barulah dia terbaring lemah di samping wanita itu. Puas.
***
"Apakah kamu tidak capek hampir tiap hari hanya dijadikan objek pemuas nafsu?" sambil menyeruput segelas teh hangat, kalimat ini meluncur dari mulut teman wanita itu.
"Sebenarnya aku capek! Tapi aku tak punya daya untuk melawan. Aku takut dia meninggalkanku setelah dia merenggut sesuatu yang paling berharga dariku." jawab wanita itu polos.
"Sebenarnya aku capek! Tapi aku tak punya daya untuk melawan. Aku takut dia meninggalkanku setelah dia merenggut sesuatu yang paling berharga dariku." jawab wanita itu polos.
"Bukan cinta namanya ketika kamu hanya dijadikan objek pemuas nafsu. It's not so called love but it's lust!" tambah temannya dengan nada sinis.
"Aku sudah capek menasihatimu terus. Kamu sendiri yang harus memutuskan, apa selamanya mau menjadi budak nafsu atau berani bertindak untuk membebaskan dirimu dari sekarang. Toh, namanya lelaki berengsek saat dia sudah jenuh dengan 'mainannya' lama-lama juga dia akan pergi sendiri. Menghilang. Tanpa rasa bersalah." lanjut temannya lagi.
Kalimat yang seakan menghunjam jantungnya, membuat wanita itu semakin bingung. Dia merasa dipermainkan oleh lelaki yang sangat dicintainya.
***
Si lelaki baru saja ingin memakai celananya saat si wanita berucap dengan lantang di bawah selimut, "Lebih baik kita putus! Aku capek dengan semua ini!"
Tanpa melanjutkan memakai celananya, si lelaki membentak, "Apa? Coba katakan sekali lagi!"
"Aku ingin kita putus! Aku capek hanya dijadikan budak nafsu!" teriak wanita itu tanpa bisa menahan airmata yang mulai menetes di pipinya.
Tak menggubris, lelaki itu meneruskan memakai celana dan bajunya. Lalu kemudian dengan nada sinis berucap, "Baiklah, jika itu maumu."
"Apa? Semudah itukah kamu mencampakkan aku?" wanita itu hanya bisa meringis dalam hati dan seakan tak mampu mengucapkan pertanyaan itu langsung.
"Toh aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Sebenarnya masih penasaran juga sih, kenapa saat 'malam pertama' kita, kamu tidak berdarah? Jangan-jangan kamu memang sudah tidak perawan lagi sebelum bercinta denganku. Hah?" ucap lelaki itu dengan nada enteng.
Airmata semakin membasahi pipi wanita itu. Ia semakin tak mengerti dengan arti kata 'perawan,' yang diketahuinya lelaki itu adalah yang pertama bersetubuh dengannya. Lelaki itu kemudian meninggalkannya begitu saja. Bertelanjang di bawah selimut. Meringis menahan pedih dalam dada.
Kamu bodoh! Semurah itukah harga dirimu sampai mau menjadi budak nafsu lelaki brengsek itu? Kalimat ini malah yang terngiang di benaknya. Waktu tak bisa diputar kembali. Sesuatu yang hilang tak bisa dikembalikan.
Tanpa melanjutkan memakai celananya, si lelaki membentak, "Apa? Coba katakan sekali lagi!"
"Aku ingin kita putus! Aku capek hanya dijadikan budak nafsu!" teriak wanita itu tanpa bisa menahan airmata yang mulai menetes di pipinya.
Tak menggubris, lelaki itu meneruskan memakai celana dan bajunya. Lalu kemudian dengan nada sinis berucap, "Baiklah, jika itu maumu."
"Apa? Semudah itukah kamu mencampakkan aku?" wanita itu hanya bisa meringis dalam hati dan seakan tak mampu mengucapkan pertanyaan itu langsung.
"Toh aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Sebenarnya masih penasaran juga sih, kenapa saat 'malam pertama' kita, kamu tidak berdarah? Jangan-jangan kamu memang sudah tidak perawan lagi sebelum bercinta denganku. Hah?" ucap lelaki itu dengan nada enteng.
Airmata semakin membasahi pipi wanita itu. Ia semakin tak mengerti dengan arti kata 'perawan,' yang diketahuinya lelaki itu adalah yang pertama bersetubuh dengannya. Lelaki itu kemudian meninggalkannya begitu saja. Bertelanjang di bawah selimut. Meringis menahan pedih dalam dada.
Kamu bodoh! Semurah itukah harga dirimu sampai mau menjadi budak nafsu lelaki brengsek itu? Kalimat ini malah yang terngiang di benaknya. Waktu tak bisa diputar kembali. Sesuatu yang hilang tak bisa dikembalikan.
***
"Jadi, Dimas udah nembak kamu?" tanya teman wanita itu dengan antusias.
Hari itu, 2 tahun setelah mengakhiri hubungan dengan mantan kekasihnya, wanita itu mencoba menjalani kehidupannya senormal mungkin.
"Iya," jawabnya singkat.
"Terus? Kamu terima, 'kan? Bener 'kan kataku, Dimas itu yang terbaik buat kamu. Dia bukan lelaki berengsek seperti Tyo, mantan kamu itu." tanya temannya lagi.
"Belum. Aku malah bingung harus jawab apa." jawab wanita itu dengan nada malas.
Hari itu, bukannya semangat untuk membagi cerita ke temannya, wanita itu malah seperti diseret ke pusaran masa lalunya. Masa lalu yang tak bisa ia perbaiki. Pikirannya melayang ke masa itu. Saat ia dijadikan 'budak nafsu' mantan kekasihnya.
"Aku pergi dulu yah." tanpa basa-basi ia menenteng tas tangannya dan meninggalkan temannya begitu saja.
Hari itu, 2 tahun setelah mengakhiri hubungan dengan mantan kekasihnya, wanita itu mencoba menjalani kehidupannya senormal mungkin.
"Iya," jawabnya singkat.
"Terus? Kamu terima, 'kan? Bener 'kan kataku, Dimas itu yang terbaik buat kamu. Dia bukan lelaki berengsek seperti Tyo, mantan kamu itu." tanya temannya lagi.
"Belum. Aku malah bingung harus jawab apa." jawab wanita itu dengan nada malas.
Hari itu, bukannya semangat untuk membagi cerita ke temannya, wanita itu malah seperti diseret ke pusaran masa lalunya. Masa lalu yang tak bisa ia perbaiki. Pikirannya melayang ke masa itu. Saat ia dijadikan 'budak nafsu' mantan kekasihnya.
"Aku pergi dulu yah." tanpa basa-basi ia menenteng tas tangannya dan meninggalkan temannya begitu saja.
***
Bibir mereka berpagutan satu dengan yang lainnya, sementara tangan sang lelaki mulai menggerayangi tubuh wanita itu.
"Aku ingin memilikimu malam ini, Sayang." ucap lelaki itu dengan penuh nafsu.
Dan kamar itu kembali lagi menjadi saksi tubuhnya ditindih setelah 2 tahun hanya ditiduri sendiri. Dalam keadaan setengah telanjang kesadaran wanita itu seketika muncul. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh lelaki di atasnya dan buru-buru mencari bajunya.
"What's wrong with you?" tanya sang lelaki heran.
Wanita itu langsung mengenakan bajunya dan berucap, "Maafkan aku, Dimas. Tapi aku tidak bisa!"
Tanpa banyak tanya, lelaki itu mengenakan kembali pakaiannya dan beranjak dari kamar itu. Sebelum keluar dari pintu, dengan lantang ia berucap, "Baiklah, kalo ini maumu lebih baik kita putus!"
Sesak di dada tak bisa ditahannya lagi. Wanita itu hanya bisa terduduk di kasurnya sambil menangis. Ini adalah tangisannya yang kesekian. Entah sudah berapa kali kamarnya menjadi saksi kesedihannya. Ia merasa terpojok. Tak berharga.
"Aku ingin memilikimu malam ini, Sayang." ucap lelaki itu dengan penuh nafsu.
Dan kamar itu kembali lagi menjadi saksi tubuhnya ditindih setelah 2 tahun hanya ditiduri sendiri. Dalam keadaan setengah telanjang kesadaran wanita itu seketika muncul. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh lelaki di atasnya dan buru-buru mencari bajunya.
"What's wrong with you?" tanya sang lelaki heran.
Wanita itu langsung mengenakan bajunya dan berucap, "Maafkan aku, Dimas. Tapi aku tidak bisa!"
Tanpa banyak tanya, lelaki itu mengenakan kembali pakaiannya dan beranjak dari kamar itu. Sebelum keluar dari pintu, dengan lantang ia berucap, "Baiklah, kalo ini maumu lebih baik kita putus!"
Sesak di dada tak bisa ditahannya lagi. Wanita itu hanya bisa terduduk di kasurnya sambil menangis. Ini adalah tangisannya yang kesekian. Entah sudah berapa kali kamarnya menjadi saksi kesedihannya. Ia merasa terpojok. Tak berharga.
Jika keperawanan adalah harga diri seorang wanita, berarti wanita yang sudah tidak perawan sudah tidak memiliki harga diri?
Atau itu hanya pandangan skeptik yang diciptakan para lelaki agar merasa lebih berkuasa dari wanita?
Agar lelaki bisa dengan mudah menindas wanita?
Entahlah. Wanita itu bahkan tidak tahu apakah dia masih bisa membuka hati untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain. Atau masih adakah lelaki yang bersedia menerima dirinya apa adanya, tanpa melihat masa lalunya, tanpa melihat apakah dirinya masih perawan atau tidak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Dan sayangnya waktu tak bisa diputar kembali untuk mengembalikan sesuatu yang sudah telanjur hilang.
“Lust comes faster than the thunder; and it kills and destructs everything faster than a chemical weapon.” - Dear Connie
Comments
Post a Comment