Selamat Berjuang, Kamu

Apa kabar, kamu? Yang dulu sempat menjadi inspirasi yang tak kunjung berhenti mencekokiku. I wanna dare you about..."GRADUATION!"

Kalau saja saat ini kita masih berbagi seribu cerita, sejuta ide, milyaran imajinasi. Tawa dan nasihatmu di ujung telepon tidak pernah tidak menemaniku hingga lewat tengah malam, semua hal yang kita bahas memang akan selalu asik, bahkan saat mendebatkan argumen sudah seperti suasana diskusi kelas di kampus. Apalagi karena kita memiliki hobby yang sama; berbisnis. Aku dan kamu sempat seperti partner profesional setiap minggunya membahas bisnis yang kujalani dan yang kamu jalani.

Kita pernah merasa sangat nyaman, semua masalah yang sedang dihadapi kita bagi cerita bersama, saling mengingatkan, saling menasihati, kita pernah merasa begitu lengkap, meski dalam bentangan ribuan kilometer. Kita pernah merasa sangat bahagia, saat meretas rindu yang tertahan berbulan-bulan, dengan perjuangan yang belum tentu semua orang mau melakukan.

Kalau saja saat ini kita masih bisa berbagi, aku ingin menceritakan betapa bahagianya aku bisa membuat karya ilmiahku dengan hal yang kusuka, kau tahu aku sangat suka seni, bukan? Aku kolaborasikan apa yang kupelajari di kampus dengan apa yang kucintai sejak kecil, Ekonomi dan Seni. Temanya tentang Ekonomi Kreatif, lalu karena aku kuliah di universitas Islam, aku tambahkan nilai syariah di dalamnya, Etika Bisnis Islami.

Kautahu? Prosesku menemukan ide itu. Tiga tema, tiga wilayah kajian, tiga fenomena bisnis, tiga judul, sudah kubuat, kugonta-ganti, namun tanpa cinta di dalamnya. Kau pasti sudah sangat paham betul tentangku yang enggan melakukan sesuatu tanpa cinta. Aku bingung, pusing tujuh keliling, apa yang harus kubuat untuk penelitianku? Di saat kebingunganku, kuingat kamu yang selalu bisa kuajak berbagi saat aku sudah kehabisan ide, kehilangan arah, tak tahu apa yang harus kupilih, kulakukan.

Kautahu? Kepenatanku setiap setelah mengetik proposal skripsiku, membaca buku dan beberapa literatur hingga larut malam. Aku ingat kamu, yang selalu menyemangatiku dengan ribuan koleksi cerita inspiratif yang kamu punya, kauceritakan itu setiap malam menjelang tidur. Kamu seperti pendekar dongeng pribadiku.

Kamu juga sedang menyusun skripsi, bukan? Aku penasaran dengan topik Hukum Perdata yang akan kamu angkat untuk penelitianmu. Kalau aku masih termasuk orang yang berhak mencampuri urusanmu, aku sangat ingin menjadi teman diskusimu yang cerdas. Proposalku dan skripsimu, ini akan menjadi pembicaraan yang sangat asik untuk kita berdua. Tapi, entahlah, mungkin hanya dalam hayalan gilaku saja.

Kamu tahu hayalan gilaku saat ini? Berkarya bersamamu. Iya, gila, bodoh, tolol. Aku sudah bukan orang yang berhak mencampuri urusanmu, menemanimu, kaubagi cerita, kaubagi keluh kesah, kaubagi mimpi, kaubagi ide, kaubagi apapun, yang akan siap menemani sepanjang perjuanganmu, apapun yang akan kauhadapi. Bukan aku, sosok semu yang hanya bisa menemanimu dengan suara dan kata-kata di layar ponsel. Tidak mungkin juga aku menemanimu disana dalam keadaan akupun sedang berjuang sendirian disini! Kau Paham! Sendirian! Aku jelas jauh lebih kuat darimu! Sendirian! Sedangkan kaubutuh seseorang.

Kembali ke bagian awal, I DARE YOU, kata-katamu selalu meninggi dan merasa selalu benar, buktikanlah, Hey, kamu tidak boleh curang, ya, skripsinya. Sudah ada yang menemanimu di sana, seharusnya kamu lebih bisa berkarya dengan semangat, hasil karyamu sendiri, aku yakin kamu selalu berbagi bersamanya dan ia akan membantumu. Aku ingin kamu benar-benar berhasil membuktikan semua mimpimu. Aku tahu diri sudah tidak bisa lagi berbagi mimpi bersamamu. Aku ingin kaumembuktikan kamu memang hebat bersama wanitamu. Aku yakin, kekasihmu saat ini tidak hanya pintar namun pintar berbagi. Selamat berjuang bersamanya... 

Kau tak ingin mengucapkan "selamat berjuang sendirian." kepadaku? :)

Comments

Popular posts from this blog

Singgah Sebentar, Hadirmu Tak Ribut Tapi Membekas

HADIAH yang membuahkan TRAUMA

Pendidikan Gak Penting?