Menunggu Hujan Reda

Halte depan kampus masih terasa nyaman untukku di tengah waktu hujan mengguyur kota udang ini. Hujan membuat siang menjadi redup, dan membuatku mengurungkan niat untuk seharusnya sudah sampai di rumah satu jam lalu setelah selesai jam kuliah pukul satu siang tadi, sesalku tak menyediakan payung.

Bola mataku asik bergerak kesana kemari melihat lalu lalang kendaraan yang mulai jarang seiring semakin derasnya hujan dengan petirnya yang semakin kencang. Tak ada banyak orang di tempatku berteduh ini, hanya ada aku dan seorang pria yang berdiri tegak di sampingku, dengan jaket jeans berwarna hitam dan membiarkan rambut lurus berponinya basah karena sempat terkena hujan sewaktu ia berlarian menuju tempat ini untuk menghindari hujan. Pria yang wajahnya tak asing bagiku.

Sweater tipis yang kupikir dapat melindungiku dari dinginnya udara tak cukup menghangatkan badan dan menenangkan bulu kudukku yang merinding. Sesekali kugesekan kedua telapak tanganku yang terlihat memucat. Hujan benar-benar mengunci langkahku. Dinginnya membekukan kata-kata yang sebaiknya kami ucapkan untuk bercengkerama, setidaknya untuk mengisi kejenuhan menunggu hujan reda, karena hujan ini sudah cukup lama. Aku sendiri tak tau mesti memulai basa basi seperti apa. Kami asik terdiam dalam pikiran dan lamunan masing-masing.

Aku tetap duduk diam. Tanpa kuhiraukan siapa yang ada di sampingku, hujanlah yang ku tatap, ku ajak bicara dalam benakku, setiap tetesnya ku perhatikan, sesekali tetesannya ditapis oleh roda-roda menggelinding yang membawa benda bermuatan manusia, enak sekali mereka yang terlindung di dalamnya. Hujan tak pernah pudar oleh tapisan roda-roda itu, ia kembali melanjutkan tugasnya, membasahi dataran yang sudah cukup lama terkena panas terik matahari. Itulah bedanya bumi dan aku, aku bersembunyi dari hujan meski telah terkena panas matahari, tapi bumi selalu bahagia menyambut hujan, menengadah pasrah diguyur ribuan tetesannya, aku cukup senang dengan mendapat aroma bahagia bumi dari sejuknya hujan.

Pria itu mengubah posisi berdirinya, membuyarkan kerja benakku. Ku intip wajahnya masih terlihat datar, tak ada keramahan, karena ku pikir wajahnya tak asing bagiku, ku tarik urat pipiku untuk tersenyum padanya, dia hanya kemudian menunduk, entah sempat melihatku tersenyum atau tidak, aku tak tau, yang ku tau tak ada balasan senyuman darinya. Dia melipat kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri dan kembali menatap lurus ke arah yang entah apa yang ia lihat.

Petir semakin kencang, jantungku semakin cepat berdetak setiap kali petir memamerkan sinar dan suara perkasanya. Di halte yang tempatnya memang terbuka, hanya ada atap yang melindungi, semakin membuatku takut, aku ingin sekedar melupakan rasa takut ini dengan mengajak pria itu bicara, tapi dia sangat tegak berdiri memandang tatapan serius ke suatu tempat, entah hanya memandang dengan tatapan kosong. Aku ikut berdiri, tulangku terasa kaku duduk lama-lama. Kulanjutkan lagi mengajak sekitarku bicara dalam benak. Sekedar melupakan sedikit ketakutanku ditengah hujan yang diiringi petir-petirnya, pria itu aku ajak bicara dalam benak juga, sesekali ku mencuri pandang ke arahnya, lurus sekali dia, tak ada keramahan yang bahkan seharusnya dimiliki orang Indonesia, atau mungkin dia pemalu, atau dingin, atau mungkin juga sombong. Mungkin ia sedang ada masalah, atau mungkin memang wataknya begitu. Ah, aku tak tau, tak baik asal menilai orang. Benakku asik menyelidik, hingga petir menghentikan bicaraku yang tanpa suara, petir yang akhirnya mengeluarkan sinar dan suara pamungkasnya, kencang sekali.

“Subhanallah!” Aku terhentak spontan sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata.

“Kamu takut, ya?” katanya memulai pembicaraan.
Aku hanya membalas dengan tersenyum dan mengangguk.

"Insya Allah aman di sini.” Kali ini dia bicara disertai senyum. Senyum hutang yang terbayar bagiku karena tadi ia tak membalas senyumku.

“Iya, kaget. Tadi kenceng banget soalnya.”
Suara hujan hanya menjadi pelengkap seakan backsound dari percakapan kita.
Seseorang yang sudah ku sukai sejak lama, namun tak pernah saling bicara, aku hanya bisa memandanginya. Tapi sekarang kami mulai saling bicara hingga menunggu hujan reda. Terlebih lagi di tempat yang hanya ada aku dan dia, tersembunyi oleh tirai hujan yang membatasi mata-mata sekitar.

Comments

Popular posts from this blog

Singgah Sebentar, Hadirmu Tak Ribut Tapi Membekas

HADIAH yang membuahkan TRAUMA

Pendidikan Gak Penting?