Jakarta dan Kamu

Ada yang selalu menggelitik benakku, ada yang selalu menarik pikiranku, Jakarta dan kamu. Sesekali kuhirup dalam-dalam udara malam ini, menyadari raga ini kembali berada di kotaku setelah beberapa bulan lalu aku sempat merasakan udara di kotamu. Entah magis apa yang berhasil membuat hati dan ragaku nyaman berada disana, betah? Mungkinkah aku hanya tergoda gemerlap yang menggiurkan disana? Atau mungkin karena ada kamu.

Kotaku sudah cukup ramai dengan deru mesin kendaraan berlalu lalang di sepanjang jalan, kilau lampu malam yang tidak begitu terang dan lampu mini market ikut pula menerangi sebagian jalan dilengkapi teriakan tukang parkir dengan peluitnya. Jauh berbeda dengan kotamu yang sangat terang benderang oleh sinar lampu gedung pencakar langit, ribuan kendaraan yang tiada henti mengisi puluhan kilometer sepanjang kota dan meriahnya lampu-lampu jalanan mengalahkan terang sinar bulan pemberian Tuhan.

Aku masih asik bercumbu dengan pikiran, perasaan dan imajiku. Aku tak yakin rangkaian kata-kata cacat ini akan kaubaca, apalagi menyentuh hatimu, lebay mungkin iya. Tidak tidak tidak, aku menulis bukan karena ingin kaubaca, aku hanya..., aku hanya ingin bermesraan dengan suasana malam ini. Adakah kalimat tidak jujur yang terbaca? Bohong butuh kekuatan, kekuatan menyembunyikan sesuatu, terlebih jika sesuatu itu adalah hal yang sangat ingin diketahui, bukan ditutupi, tapi keadaan menuntut untuk menutupi, meski kubenci menutupi. Tidak tahan, sesak, tapi aku cukup memiliki kekuatan itu.

Malam kita sudah berbeda dari biasanya, hari-hari kita sudah menjadi masa lalu, karena yang kini tidak lagi sama. Tak adil rasanya jika yang berjauhan memang ditakdirkan untuk seperti ini, atau kamu yang keras kepala enggan melihat sisi indahnya kita.

Suaramu kini hanya menggema dalam angan, samar dan terdengar sangat jauh, karena aku sudah tidak mungkin lagi mendengar suara khasmu di ujung telepon ataupun bertemu. Wajahmu hanya menjadi bayang semu dalam benak, sekat kita semakin menebal saat kamu menghadirkan yang lain untuk menemanimu disana.

Disini benakku masih sangat sibuk bercumbu dengan ribuan kenangan bersamamu, disana kamu asik bercinta dengan wanita barumu. Disini hatiku masih sangat keras merindu, disana kamu lembut membelai mesra rambut wanita barumu. Disini aku masih terjaga dibalut kedinginan tanpamu, disana kamu sudah tertidur lelap setelah ucapan hangat dari wanita  barumu. Ah, betapa muaknya kumerindukanmu. Aku rindu, tapi mengungkapkan tidak membuat hati yang merindu ini terobati. Raga dan hati selalu menjadi kaku ketika tahu bahwa mengungkapkan tiada arti dan memendam pun tiada guna.

Aku selalu menerima semua persepsi baik atau buruk yang kaubuat tentang kita. Atas semua keputusan dan sikapmu, baiklah aku mengalah. Aku tidak akan terkesan menyalah-nyalahkanmu, apalagi membenar-benarkanku. Begini, kuuraikan.

Kaubutuh seseorang untuk menemanimu disana karena kauanggap keberadaanku semu, secara teknis kaubenar. Kaumenyanggah soal jarak dan keberadaanku, konyol katamu. Aku tertawa, tak hentinya kumengernyitkan dahiku mendengar semua pemaparanmu, tapi baiklah, kuurungkan niat mengingatkanmu perihal semua janji dan keyakinan yang mendoktrin otak dan hatiku. Aku ingat saat kamu dengan sangat percaya diri menyuruhku pergi, dengan alasan yang kauucap sangat angkuh, kauingin menjalani hal nyatamu, menghentikan semua mimpi kita, dan kaumeminta aku mengertikan keadaanmu yang sedang membutuhkan seseorang di sampingmu. "Kamu gak kasian sama aku? Lagi butuh seseorang tapi kamu gak disini?" Aku sangat ingin tertawa mendengarnya. Kalau saja aku jawab pertanyaanmu dengan pertanyaanku pula, "Kamu gak kasian sama aku yang sudah kamu jejali ribuan janji dan keyakinan tapi kamu tendang gitu aja?"

Kebetulan yang paling kulebih-lebihkan dengan konyol adalah mengenalmu. Kebodohan dan kesalahanku adalah mempercayaimu untuk menjaga hatiku. Kamu yang dulu menjelma bak malaikat yang bersedia melindungiku, kini berubah menjadi sosok iblis pembunuh hati yang nyata dalam hidupku. 

Aku salah, aku salah menjadi wanita yang terlalu sabar, aku salah menjadi wanita yang terlalu setia, aku salah menjadi wanita yang terlalu percaya, aku salah menjadi wanita yang terlalu banyak bermimpi, aku salah menjadi wanita yang selalu tetap menunggu; untukmu.

Aku tidak akan terus-terusan membahas cinta dan hatiku, karena kutahu kamu akan merasa masih kudekap dalam untaian kataku, maka aku berhenti, aku hanya ingin kamu merindukanku, meski itu tidak akan mungkin.

Kepada jarak yang pernah mengajariku arti kerinduan, kepada keterbatasan yang pernah mengajariku kesabaran, kepada waktu yang pernah mengajariku arti kesetiaan, dan kotamu yang membawa cerita. Kepada angin yang tak pernah ingkar menyampaikan rinduku, kutaruh kamu bersama sekian rindu mendatang yang tidak mungkin akan kusampaikan lagi.

Selamat menjalani dunia nyatamu... :)

Comments

Popular posts from this blog

Singgah Sebentar, Hadirmu Tak Ribut Tapi Membekas

HADIAH yang membuahkan TRAUMA

Pendidikan Gak Penting?