Candu

Candu


Napasnya memburu ketika wangi yang menguar dari tubuhku memenuhi indra penciumannya. Sementara aku? Aku hanya bisa diam dan pasrah dengan apa saja yang ingin dia lakukan padaku malam itu.

Dia mengaku mencintaiku. Salahkah? Bahkan saat dia berkata. "Aku mencanduimu!" seketika membuatku terbang ke awang-awang dan seolah ingin berteriak. "Lakukanlah apa saja yang ingin kaulakukan dengan tubuhku."

Nafsu? Persetan dengan yang namanya nafsu! Candu itu mungkin lebih mulia dari nafsu. Hey, ini memang tentang candu bukan nafsu. Tentang seorang pecinta yang mengaku mencanduiku. Apa aku harus dengan bodohnya menolaknya untuk menikmati tubuhku?

Tatapannya saat itu hanya terfokus ke arahku. Napasnya semakin sengau dan suaranya berubah jadi parau. Dia mulai memegang tanganku, membelai tubuhku seluruhnya sambil berbisik, "You're mine now, Hunny!"

Beberapa ciuman ganas mendarat di bibirku. Tak berhenti dia menghisap dan menikmati setiap tetes kenikmatan yang diperolehnya dari tubuhku. Aku pun merasakan getaran yang sama. Tubuhku menggelinjang. Desir hangat itu perlahan berpindah juga ke bibirnya yang kurasakan semakin panas.

Kami beradu dalam permainan penuh sensasi kenikmatan. Bukankah itu tujuannya? Sama-sama memperoleh kenikmatan dan itu lebih dari cukup. Bahkan memuaskan!

Diciuminya bibirku sampai aku kehabisan napas hingga akhirnya desahan panjang yang keluar dari mulutnya terdengar; menandakan bahwa dia telah mencapai puncak kenikmatan. Aku tersenyum kecil dalam tubuh telanjang yang mulai dirasuki hawa dingin. Tapi aku puas karena bisa memuaskannya.

Wajahku seketika berubah semringah karena setelah menikmatiku dia berucap lembut, "Kopi yang nikmat!"

Comments

Popular posts from this blog

Singgah Sebentar, Hadirmu Tak Ribut Tapi Membekas

HADIAH yang membuahkan TRAUMA

Pendidikan Gak Penting?