Suara yang Tak Didengar, Luka yang Disalahkan
Aku tidak tahu lagi harus bagaimana.
Saat aku mencoba berbicara, aku dianggap melawan. Saat aku memilih diam, mereka bilang aku sombong.
Padahal aku hanya ingin menjaga diriku sendiri dari luka yang sama berulang-ulang.
Saat aku mengungkapkan rasa sakit, malah dicap berontak, kurang ajar, dan jahat.
Padahal aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku pun punya perasaan.
Aku ingin didengar, bukan dihakimi.
Tapi rupanya di dunia mereka, suara perempuan yang jujur dianggap keras.
Sekarang aku lebih banyak menarik diri.
Bukan karena aku benci, tapi karena aku lelah menjelaskan hal-hal yang tidak pernah mereka coba pahami.
Aku tahu mereka mungkin merasa aku berubah. Aku tidak seceria dulu, tidak banyak bicara di depan mereka.
Tapi mereka tidak tahu alasan di balik itu semua: aku sedang berusaha menyembuhkan diriku dari rasa takut dan kecewa.
Aku tidak ingin hidup dengan topeng ramah sementara hatiku retak.
Aku tidak ingin pura-pura tidak apa-apa hanya agar terlihat baik di mata orang lain.
Kadang diam adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.
Tapi anehnya, bahkan diam pun dianggap kesalahan.
Mungkin di mata mereka aku dingin, pendiam, atau bahkan tidak sopan.
Tapi di mataku sendiri, aku hanya seseorang yang sedang berusaha bertahan dengan cara yang paling lembut yang aku bisa.
Dan kalau semua itu masih dibilang salah,
mungkin memang aku tidak akan pernah benar di mata mereka.
Tapi kali ini, aku tidak akan memaksakan diri lagi.
Aku tidak lagi mencari pembenaran — aku hanya ingin kedamaian.
Karena ternyata, tidak semua orang bisa memahami luka yang tidak mereka rasakan.
Dan tidak semua orang siap menerima bahwa diam bukan tanda benci,
tapi bentuk paling tenang dari cinta yang sudah terlalu sering dikecewakan.
Comments
Post a Comment