The Kilometre
Hari-hari yang kujalani kemanapun aku pergi melakukan aktifitas di luar rumah pasti harus selalu saja melewati si
kilometer jelek yang membuat semua orang lelah melaluinya. Mereka yang
berkendara, berjalan kaki, semua dibuat letih, bahkan bagi mereka yang sedang
diam dan merindukan kekasihnya menggalau dibuatnya.
Panas yang ia uapkan semakin menyatu dengan panas matahari seakan benar-benar
dia bergembira menertawakan orang-orang yang melewatinya. Tawanya itu loh,
panas “hahahhahhh”.
“Dear, Kilometre. Aku ingat
seseorang.” Berjalan di atas si jelek kilometer menahan panas dengan sepatu
bututku yang mulai belel karena sering terkena panas, aku ajak si kilometer
bicara, tapi ia mana peduli.
“Dear, Kilometre. Aku rindu
seseorang.” Aku ajak si kilometer bicara lagi, tapi ia tetap diam.
Di tengah
kebisingan yang orang ciptakan dengan kesibukannya masing-masing, di
sekelilingku dan di atas si kilometer, aku juga asik dengan kesibukanku ini,
mengingat seseorang, sampai menemukan tempat setelah berjalan, aku pilih untuk duduk di
atas bangku panjang dan ku malaskan kedua tanganku di atas mejanya, tempat
makan bakso lebih tepatnya. Ingatanku mulai asik menggelitik pikiranku hingga
hati seakan terhipnotis merindu.
Aku rindu.
Rindu yang selalu membawa lamunanku kepada
bayangannya, bayangan yang terlihat seperti fatamorgana, ku dekati kemudian
menghilang dan menyadarkan lamunan bahwa sebenarnya yang kurindukan tak ada di
depan mata.
Suaranya
semalam di seberang sana yang kudengar di ujung telepon masih terdengar dekat
di telingaku, dekat di hatiku, semakin menusuk karena kerinduan yang semakin
menjadi. Kilometer memang sedang memisahkan kita. Tapi aku punya cinta yang tak
ada ujungnya, tidak seperti si kilometer yang dimana-mana pasti ada ujungnya,
aku tak akan kalah olehnya.
Sudah waktunya
makan siang, tapi rasanya tak ada semangat bahkan hanya untuk sekedar mengunyah
butiran-butiran nasi, bahkan untuk memakan bakso makanan kesukaanku, aroma
sedapnya kali ini tidak mampu menggetarkan lidah menggoda hasrat laparku. Di
tengah kebisingan orang-orang lalu lalang sekitar kampus dan canda tawa
teman-teman di sampingku tak cukup mengisi sedikit energi dalam tubuhku untuk
bersemangat.
“Dear, Kilometre.
Dia merindukanku!” Lagi-lagi si jelek diam dan tak mau memahami.
Rindu ini aku
nikmati, kunikmati keindahannya, meski memang tak mampu melihatnya, tak mampu
kusilangkan jemariku dengan jemarinya, tak mampu pula menatap mata indahnya
juga menyentuh wajah manisnya, tak mampu ku dekap erat memeluknya. Rindu ini
aku nikmati. Setiap detik memahami kesabaran, memahami ketulusan dan
keikhlasan.
Sejak awal aku
sangat memahami akan seperti apa kita ini, jauh, terpisah ratusan kilometer,
berada dalam peradaban yang berbeda. Harusnya kamu merasa spesial memiliki
wanita seperti aku yang dibentang jauh oleh si jelek dan si panas
kilometer, namun rasaku tak pernah hancur meleleh.
“Dear,
Kilometre. Bisakah kamu memahami kami? Sampaikan padanya rasa rinduku melalui
angin yang melewatimu.” Kenapa si jelek tak pernah mau menyahutku? Padahal dia
yang membuatku jauh dengannya.
Di tengah
keriuhan, di tepi si kilometer, aku berjalan sendiri meninggalkan teman-temanku
untuk ke perpustakaan alasanku, padahal aku sedang tidak ingin terlihat murung
di depan mereka. Kembali kurasakan udara panas yang dipancarkan matahari dan
yang diuapkan oleh si jelek, lagi-lagi aku menatap bayangan yang kurindukan.
Ah, itu fatamorgananya lagi! Dekat...semakin dekat, jelas...semakin jelas, dia
menggenggam tangan lemahku, dia memahami kelelahanku di tengah panas kilometer
ini, dia mengangkat daguku untuk menatap bola mata indahnya mengobati lelahku,
mata yang penuh kasih sayang menatap menembus bola mataku yang menerjemahkan
kasih sayang jua, kali ini mengapa fatamorgananya terasa jelas? Dia memelukku
erat menerjemahkan gunungan kerinduannya selama ini. Kali ini terasa
nyata, bukan sekedar fatamorgana, ia memelukku.
“Aku kangen
kamu.” Pelukkannya semakin erat, erat sekali setelah membisikkan kata-kata itu.
“Aku juga...”
Kubalas pelukan eratnya dan air mataku tak dapat ku tahan untuk berhenti
mengalir membasahi bahunya. Tuhan, jangan biarkan ini cepat berlalu.
Tok, tok, tok!
“Bangun, nak...!” Suara mama membangunkan aku pagi ini.
“Tuhan, yang
tadi itu apa?”
Aku membuka
jendela kamar dan melihat keluar, melihat si kilometer jelek lagi. Namun kali
ini dia seakan mengajakku bicara.
“Kalahkan aku
dengan nyatamu!” Katanya.
Comments
Post a Comment